Rabu, 16 Juni 2010 | By: Rahman Raden

Kemalisme, Budaya dan Negara Turki ***

Negara Turki adalah negara di dua benua. Dengan luas wilayah sekitar 814.578 kilometer persegi, 97% (790.200 km persegi) wilayahnya terletak di benua Asia dan sisanya sekitar 3% (24.378 km persegi) terletak di benua Eropa. Posisi geografi yang strategis itu menjadikan Turki jembatan antara Timur dan Barat. Bangsa Turki diperkirakan berasal dari Asia Tengah. Secara historis, bangsa Turki mewarisi peradaban Romawi di Anatolia, peradaban Islam, Arab dan Persia sebagai warisan dari Imperium Usmani dan pengaruh negara-negara Barat Modern. Hingga saat ini bangunan-bangunan bersejarah masa Bizantium masih banyak ditemukan di Istanbul dan kota-kota lainnya di Turki. Yang paling terkenal adalah Aya Sofya, suatu gereja di masa Bizantium yang berubah fungsinya menjadi mesjid pada masa Khalifah Usmani dan sejak pemerintahan Mustafa Kemal hingga kini dijadikan musium.

Peradaban Islam dengan pengaruh Arab dan Persia menjadi warisan yang mendalam bagi masyarakat Turki sebagai peninggalan Dinasti Usmani. Islam di masa kekhalifahan diterapkan sebagai agama yang mengatur hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Allah SWT sebagai Khalik, Sang Pencipta; dan juga suatu sistem sosial yang melandasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Islam yang muncul di Jazirah Arab dan telah berkembang lama di wilayah Persia, berkembang di wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki dengan membawa peradaban dua bangsa tersebut. Perkembangan selanjutnya memperlihatkan pengaruh yang kuat kedua peradaban tersebut ke dalam kebudayaan bangsa Turki. Kondisi ini menimbulkan kekeliruan pada masyarakat awam yang sering menganggap bahwa bangsa Turki sama dengan bangsa Arab. Suatu anggapan yang keliru yang selalu ingin diluruskan oleh bangsa Turki sejak tumbuhnya nasionalisme pada abad ke-19. Selanjutnya arah modernisasi yang berkiblat ke Barat telah menyerap unsur-unsur budaya Barat yang dianggap modern. Campuran peradaban Turki, Islam dan Barat, inilah yang telah mewarnai identitas masyarakat Turki.

Masyarakat Indonesia mengenal Turki sebagai suatu negara berpenduduk mayoritas Muslim. Kita juga mengenal Turki sebagai bangsa yang pernah memimpin dunia Islam selama tujuh ratus tahun, dari permulaan abad ke-13 hingga jatuhnya Kekhalifahan Usmani pada awal abad ke-20. Fenomena kehidupan masyarakat Turki menjadi menarik ketika negara Turki yang berdiri tahun 1923 menyatakan sebagai sebuah negara sekuler, di mana Islam yang telah berfungsi sebagai agama dan sistem hidup bermasyarakat dan bernegara selama lebih dari tujuh abad, dijauhkan peranannya dan digantikan oleh sistem Barat. Tulisan ini mencoba memaparkan fenomena tersebut dari pandangan sosiologi sejarah.
Dari Westernisasi menuju Sekularisasi

Yang dianggap sebagai momentum pertama kontak antara Turki dengan dunia Barat adalah jatuhnya konstantinopel, ibukota Bizantium, ke tangan pasukan Turki Usmani dibawah pimpinan Sultan Muhammad II pada tahun 1453. Konstantinopel yang selanjutnya diganti menjadi Istanbul, adalah suatu kota metropolis yang berada di benua Asia dan Eropa. Inilah titik awal masa keemasan Turki Usmani, yang terus cemerlang hingga abad ke-18 dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas membentang dari Hongaria Utara di Barat hingga Iran di Timur; dari Ukrania di Utara hingga Lautan India di Selatan.

Turki Usmani berhasil membentuk suatu Imperium besar dengan masyarakat yang multi-etnis dan multi-religi. Kebebasan dan otonomi kultural yang diberikan Imperium kepada rakyatnya yang non-muslim, adalah suatu bukti bagi dunia kontemporer bahwa sistem kekhalifahan dengan konsep Islam telah mempertunjukkan sikap toleransi dan keadilan yang luhur.

Sultan adalah sekaligus khalifah, artinya sebagai pemimpin negara, Ia juga memegang jabatan sebagai pemimpin agama. Kekhalifahan Turki Usmani didukung oleh kekuatan ulama (Syeikhul Islam) sebagai pemegang hukum syariah dan kekuatan tentara, yang dikenal dengan sebutan tentara Janisssari. Kekuatan militer yang disiplin inilah yang mendukung perluasan Imperium Usmani, dan juga yang menyebabkan keruntuhannya pada abad ke-20.

Kegagalan pasukan Turki dalam usaha penaklukan Wina pada tahun 1683, merupakan suatu awal memudarnya kecermelangan Imperium Turki. Kekalahan tersebut dimaknai sebagai melemahnya kekuatan pasukan Turki dan menguatnya pasukan Eropa. Lebih disadari lagi bahwa kekalahan itu menandai kelemahan teknik dan militer pasukan Turki. Inilah yang menjadi awal munculnya upaya mencontoh teknologi militer Barat yang dianggap telah maju. Selanjutnya kondisi ini membawa Turki Usmani pada suatu masa pembaruan atau modernisasi.

Setelah Perang Dunia I pada tahun 1918, dengan kekalahan pihak Sentral yang didukung oleh Turki, Imperium Turki Usmani mengalami masa kemuduran yang sangat menyedihkan. Satu persatu wilayah kekuasaan yang jauh dari pusat membebaskan diri dari kekuasaan Turki Usmani. Bahkan lebih buruk lagi negara-negara sekutu berupaya membagi-bagi wilayah kekuasaan Turki untuk dijadikan negara koloni mereka. Kondisi porak porandanya Imperium menumbuhkan semangat nasionalisme pada generasi muda Turki ketika itu. Pemikiran tentang identitasa bangsa dan pentingnya suatu negara nasionalis yang meliputi bangsa Turki menjadi wacana yang banyak diperdebatkan.

Pada tahun 1919-1923 terjadi revolusi Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal. Kecemerlangan karier politik Mustafa Kemal dalam peperangan, yang dikenal sebagai perang kemerdekaan Turki, mengantarkannya menjadi pemimpin dan juru bicara gerakan nasionalisme Turki. Gerakan nasionalisme ini, yang pada waktu itu merupakan leburan dari berbagai kelompok gerakan kemerdekaan di Turki, semula bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Turki dari rebutan negara-negara sekutu. Namun pada perkembangan selanjutnya gerakan ini diarahkan untuk menentang Sultan.

Mustafa Kemal mendirikan Negara Republik Turki di atas puing-puing reruntuhan kekhalifahan Turki Usmani dengan prinsip sekularisme, modernisme dan nasionalisme. Meskipun demikian, Mustafa Kemal bukanlah yang pertama kali memperkenalkan ide-ide tersebut di Turki. Gagasan sekularisme Mustafa Kemal banyak mendapat inspirasi dari pemikiran Ziya Gokalp, seorang sosiolog Turki yang diakui sebagai Bapak Nasionalisme Turki. Pemikiran Ziya Gokalp adalah sintesa antara tiga unsur yang membentuk karakter bangsa Turki, yaitu ke-Turki-an, Islam dan Modernisasi.

Kronologi sejarah di atas, penulis uraikan untuk menerangkan suatu kondisi sosial politik Imperium Usmani yang membentuk pemikiran dan gerakan sekuler Mustafa Kemal. Dengan demikian Mustafa dan pengikutnya menggerakkan reformasi-reformasi di Turki dengan dasar-dasar yang telah diletakkan oleh para pembaru-pembaru di kekhalifahan Turki. Pada perkembangan selanjutnya ide-ide reformasi Mustafa Kemal menjadi suatu gerakan politik pemerintah yang dikenal dengan sebutan Kemalisme.
Kemalisme: Suatu Revolusi Budaya dan Negara (1923-1950)

Politik Kemalis ingin memutuskan hubungan Turki dengan sejarahnya yang lalu supaya Turki dapat masuk dalam peradaban Barat. Oleh karena itulah penghapusan kekhalifahan merupakan agenda pertama yang dilaksanakan. Pada tanggal 1 November 1922 Dewan Agung Nasional pimpinan Mustafa Kemal menghapuskan kekhalifahan. Selanjutnya pada tanggal 13 Oktober 1923 memindahkan pusat pemerintahan dari Istanbul ke Ankara. Akhirnya Dewan Nasional Agung pada tanggal 29 Oktober 1923 memproklamasikan terbentuknya negara Republik Turki dan mengangkat Mustafa Kemal sebagai Presiden Republik Turki.

Setelah meniadakan kekhalifahan, politik Kemalisme menghapuskan lembaga-lembaga syariah, meskipun sebenarnya peranan lembaga ini sudah sangat dibatasi oleh para pembaru Kerajaan Usmani. Bagi Kemalis, syariat adalah benteng terakhir yang masih tersisa dari sistem keagamaan tradisional. Lebih lanjut lagi Kemalis menutup sekolah-sekolah madrasah yang sudah ada sejak tahun 1300-an sebagai suatu lembaga pendidikan Islam.

Reformasi agama adalah salah satu contoh tindakan ekstrim dari rezim Kemalis setelah penghapusan khalifah. Reformasi ini bertujuan untuk memisahkan agama dari kehidupan politik negara dan mengakhiri kekuatan tokoh-tokoh agama dalam masalah politik, sosial dan kebudayaan. Selain itu Mustafa Kemal juga mengajukan pemikiran tentang nasionalisme agama. Menurutnya agama merupakan suatu lembaga sosial dan karena itu harus disesuaikan dengan sosial dan budaya masyarakat Turki.

Suatu komite dibentuk di Fakultas Teologi di Universitas Istanbul untuk memodernisasikan Islam. Komite ini menyebarkan keinginan Mustafa kemal untuk mengganti bentuk dan suasana mesjid seperti bentuk dan suasana gereja di negara-negara Barat, dengan menekankan pada: pentingnya mesjid yang bersih, dengan bangku-bangku dan ruang tempat menyimpan mantel; mewajibkan jamaah masuk dengan sepatu yang bersih; menggantikan bahasa Arab dengan bahasa Turki; menyediakan alat-alat musik ditempat shalat untuk memperindah bentuk shalat, dan mengubah teks-teks khutbah yang telah ada dengan khutbah yang berisi pemikiran agama berdasarkan filsafat Barat. Pada tahun 1932 pemerintah mengeluarkan kebijakan mengganti pengucapan azan ke dalam bahasa Turki, yang amat ditentang oleh mayoritas masyarakat Muslim Turki.

Reformasi agama, yang bentuknya upaya Turkifikasi Islam atau nasionalisasi Islam ini merupakan bentuk campur tangan pemerintah Kemalis dalam kehidupan beragama di masyarakat Turki. Sekularisme yang sejatinya memisahkan hubungan agama dengan pemerintahan, di mana negara menjamin kebebasan beribadah, bagi warga negara, pada pelaksanaannya dijalankan dengan semangat nasionalisme yang radikal dan dipaksakan oleh Kemalis. Namun penerapan nasionalisasi agama ini hanya bertahan hingga akhir pemerintahan Kemalis (Partai Rakyat Republik). Sejak tahun 1950, azan kembali diucapkan dalam bahasa Arab. Mesjid-mesjid di Turki pun hingga saat ini tetap menunjukkan bentuk-bentuk yang umum sebagaimana mesjid di negara-negara lainnya.

Peradaban menurut Mustafa Kemal, berarti peradaban Barat. Tema utama dari pandangannya tentang pem-Barat-an adalah bahwa Turki harus menjadi bangsa Barat dalam segala tingkah laku. Untuk itu Pemerintah Kemalis mengeluarkan kebijakan larangan menggunakan pakaian-pakaian yang dianggap pakaian agama di tempat-tempat umum dan menganjurkan masyarakat Turki menggunakan pakaian sebagaimana orang-orang Barat berpakaian (berjas dan bertopi). Peraturan ini mulai efektif pada November 1925 dan hingga saat ini masyarakat Turki menggunakan pakaian a-la Barat. Sampai saat ini pemakaian jas sudah menjadi ciri umum dari masyarakat Turki. Sedangkan pemakaian topi menghilang bersamaan dengan menghilangnya kebiasaan memakai topi itu pada masyarakat Eropa.

Mustafa Kemal juga mengkritik pemakaian jilbab oleh wanita-wanita Turki, tapi semasa hidupnya tidak ada undang-undang yang secara tegas melarang pemakaian jilbab tersebut. Pelarangan jilbab secara konstitusional baru terjadi pada tahun 1998, sebagai reaksi militer atas munculnya fenomena kesadaran yang tinggi dari muslimah-muslimah Turki dalam menggunakan jilbab dan juga reaksi atas kemenangan Partai Islam Refah pada pemilu tahun 1995.

Selain reformasi agama, reformasi yang paling penting dari rezim Kemalis adalah reformasi bahasa. Tulisan Arab diganti dengan tulisan Latin, berdasarkan undang-undang yang diputuskan oleh Dewan Nasional Agung pada 3 Novemeber 1928. Tujuan reformasi bahasa adalah membebaskan bahasa Turki dari ‘belenggu’ bahasa asing. Penekanannya adalah pemurnian bahasa Turki dari bahasa Arab dan Persi. Mustafa Kemal mengadakan kunjungan di banyak tempat untuk mengajar secara langsung tulisan baru pada rakyat Turki.

Reformasi bahasa ini memberi sumbangan yang berharga bagi perkembangan linguistik bahasa Turki saat ini. Penelitian yang mendalam terhadap akar bahasa dan struktur bahasa Turki membuktikan bahwa bahasa Turki termasuk kelompok bahasa Altay, yaitu bahasa-bahasa yang dipergunakan bangsa-bangsa yang mendiami wilayah yang membentang dari Finlandia hingga Manchuria. Dari segi gramatikal, bahasa Turki termasuk bahasa aglutinatif, yaitu bahasa berimbuhan. Struktur sintaksis memperlihatkan pola Objek-Predikat, dimana Predikat selalu berada di akhir kalimat. Ciri-ciri struktural bahasa Turki memperlihatkan perbedaannya yang jelas dengan bahasa Arab.

Komite ahli hukum mengambil Undang-Undang sipil Swiss untuk memenuhi keperluan hukum di Turki menggantikan Undang-Undang Syariah, berdasarkan keputusan Dewan Nasional agung tanggal 17 februari 1926. Undang-Undang Sipil yang mulai diberlakukan pada tanggal 4 Oktober 1926 ini antara lain tentang: menerapkan monogami; melarang poligami dan memberikan persamaan hak antara pria dan wanita dalam memutuskan perkawinan dan perceraian. Sebagai konsekuensi dari persaman hak dan kewajiban ini hukum waris berdasarkan Islam dihapuskan. Selain itu undang-undang sipil juga memberi kebebasan bagi perkawinan antar agama.

Pada I Januari 1935, pemerintah mengharuskan pemakaian nama keluarga bagi setiap orang Turki dan melarang pemakaian gelar-gelar yang biasa dipakai pada masa Turki Usmani. Mustafa Kemal menambahkan nama Ataturk, yang berarti Bapak Bangsa Turki, sebagai nama keluarga. Pada tahun 1935 sistem kalender hijriyah diganti dengan sistem kalender masehi; hari Minggu dijadikan sebagai hari libur menggantikan hari libur sebelumnya yaitu hari Jumat.

Tentang sekularisasi dan modernisasi di Turki pada masa Rezim Kemalis seperti diuraikan di atas, Bryan S. Turner, seorang guru besar sosiologi di Universitas Flinders (Australia Selatan), menyimpulkan bahwa sekularisme tersebut merupakan suatu bentuk pemaksaan dari pemerintah rezim, bukanlah sekularisasi yang tumbuh sebagai suatu konsekuensi dari proses modernisasi seperti di negara-negara Eropa. Selain itu sekularisasi di Turki pada saat itu merupakan peniruan secara sadar pola tingkah laku masyarakat Eropa yang dianggap modern dan lebih maju (1984:318). Bagi kemalis, manusia Turki baru tidak saja harus berpikiran rasional seperti orang-orang Eropa, tetapi juga harus meniru tatacara berperrilaku dan berpakaian seperti mereka.
Masyarakat Turki Pasca Kemalisme

Mustafa Kemal meninggal dunia pada tanggal 10 November 1938, setelah tiga kali menjabat sebagai presiden Republik Turki, yaitu pada tahun1927, 1931 dan 1935. Mustafa Kemal diakui berhasil menciptakan sistem pemerintahan parlementer dan meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi kehidupan demokratisasi di Turki. Partai Republik rakyat adalah partai politik yang dibentuk Mustafa Kemal untuk menjalankan roda Pemerintahan. Meskipun demikian, sejarah Turki menunjukkan pemerintahan Kemal dengan sistem pemerintahan satu partai tidak memberi ruang bagi kemunculan partai oposisi. Iklim Demokrasi muncul kemudian sejak Turki menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1945 dan terus berkembang menunjukkan kemajuan yang pesat. Daniel Lerner (di dalam Memudarnya Masyrakat Tradisional, 1983) telah melakukan penelitian yang mendalam di suatu kota dekat Ankara pada tahun 1950-an, dan menyimpulkan bahwa negara Turki telah tumbuh menjadi negara yang relatif lebih stabil dan demokratis di banding dengan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.

Reformasi budaya, terutama sekularisasi agama dan pemakaian hukum Barat menggantikan hukum Islam, memperlihatkan proses dinamis dari penerimaan dan penolakan masyarakat Turki. Sekularisasi agama pada masa Kemalis (1923-1950) melahirkan generasi Turki yang jauh dari agamanya. Bahasa Turki yang ditulis dalam bahasa latin telah menjadi bahasa nasional Turki. Sedangkan pemakaian hukum-hukum Barat juga diadaftasi dengan berbagai tingkatan kesulitan di berbagai lapisan msyarakat.

Pada pemilu 1950, kekuasaan tunggal Partai Republik Rakyat berakhir dan digantikan oleh partai sekuler beraliran liberal, yaitu Partai Demokrat. Partai pimpinan Adnan Menderes ini mencoba mngoreksi penyimpangan-penyimpangan sekularisasi yang sudah dijalankan oleh Partai Republik Rakyat sejak berdirinya negara Turki. Namun Adnan menderes juga tidak ingin Kemalisme digantikan dengan ideologi lain. Sejak masa pemerintahan Partai Demokrat inilah masyarakat Muslim yang merupakan mayoritas (98 persen dari 70 juta jiwa) penduduk Turki dapat melakukan shalat di mesjid-mesjid umum, berpuasa dan melakukan ibadah naik haji, yang pada masa Rezim Kemalis sulit dilakukan. Selain itu madrasah-madrasah kembali di buka, sehingga para orang tua dapat kembali menyekolahkan anak mereka di sekolah agama, setelah mereka menyadari bahwa mereka tumbuh sebagai suatu generasi yang kering dari nilai dan ilmu agama. Madrasah-madrasah ini kembali ditutup pada tahun 1998 setelah dianggap sebagai lembaga yang mendidik kelompok Islam fundamental yang keberadaannya menguat dan mengancam ideologi sekuler Turki.

Perkembangan masyarakat di Turki menemukan karakter sendiri yang unik sebagai suatu bentuk pertentangan yang rumit antara pemikiran Kemalisme, yang fundamental dan radikal, pemikiran liberalis yang meskipun menentang Kemalisme tetapi tidak ingin ideologi ini diganti, dan pemikiran Islam, baik yang konservatif maupun moderat. Semangat masyarakat Turki modern untuk menjadi suatu bangsa yang modern dan demokratis, selalu disertai dengan kesadaran yang mendalam tentang watak dan idealisme ke-Turki-an dan ke Islaman. Penulis melihat bahwa gagasan sintesa tentang Islam, Turki dan Barat yang pernah dimunculkan oleh Ziya Gokalp (Bapak naasionalis Turki) mulai terimplementasikan dengan wajar dan alami, sedangkan Kemalisme dijadikan ideologi negara yang keberadaannya sangat dijaga oleh kekuatan militer Turki.

Militer Turki mengambil peran sebagai penjaga ideologi Kemalisme sebagai prinsip negara. Jatuhnya pemerintahan Partai Islam Refah pada tahun 1998 adalah suatu bukti masih dominannya pengaruh politik militer di Turki. Namun kebangkitan Islam, baik itu suatu fenomena kesadaran umat Islam Turki untuk kembali mempelajari nilai-nilai Islam di tengah kebijakan sekuler pemerintah dan fenomena dukungan masyarakat Islam terhadap kemenangan partai politik yang dianggap membawa aspirasi Islam terus memperlihatkan kemajuan ke arah yang positif. Aspirasi dan dukungan yang besar dari masyarakat Turki kembali mengantarkan kemenangan partai berbasis Islam: Partai Keadilan dan Pembangunan dalam pemilu 2002. Meskipun secara tegas pemimpin partai ini menyatakan bahwa Partai Keadilan dan Pembangunan bukanlah partai Islam dan mereka menyatakan komitmennya yang sungguh-sungguh menjaga ideologi sekularisme di Turki, nampaknya Rakyat Turki lebih melihat mereka sebagai sosok-sosok muslim yang shaleh yang diharapkan dapat membawa Turki ke arah yang lebih maju.

Sebagai penutup, dari pengalaman hidup di negara Turki, penulis menarik satu kesimpulan bahwa opini masyarakat Turki hingga saat ini masih terpecah dalam penilaian terhadap Mustafa Kemal Ataturk: Ia dihormati sebagai penyelamat bangsa dan pendiri negara modern Turki, dan dikecam sebagai pengkhianat yang bertanggung jawab atas hilangnya kekahlifahan Islam. Kontradiksi ini menjadi bagian dari sejarah Turki yang tidak mudah disepahamkan.


***Sumber: Ade Solihat, M.S. adalah Alumni Pascasarjana Institut Negara-negara Timur Tengah dan Islam, Universitas Marmara, Turki. Tulisan ini disampaikan pada Ceramah Umum---- KEMALISME: Budaya dan Negara Turki----Diselenggarakan oleh Departemen Linguistik dan Departemen Susastra FIB UI pada tanggal 10 Mei 2005.
Sabtu, 29 Mei 2010 | By: Rahman Raden

Wibawa dan Power Indonesian Idol 2010 Runtuh

Dea Idol Harus Tersisih Belum Waktunya



Orang yang paling bertanggung jawab atas peristiwa di Spektakuler 3 (28/05/10) Indonesian Idol 2010 adalah dewan juri. Sebab babak 11 besar tersebut DEA dari Bandung yang memiliki
karakter vocal nge-Rock ternyata harus tersisih. Tentu saja ini meruntuhkan kekuatan Indonesian Idol 2010 dengan tema Be A Superstar. Mencari Superstar adalah tujuan Indonesian Idol 2010 tapi nyatanya DEA kontestan wanita yang menjadi Power Indonesian Idol 2010 ternyata harus pulang karena dia memperoleh 3 SMS Terendah bersama Gilang dan Fendi. Padahal Malam itu Dea dipastikan LOLOS karena penampilan Gilang dan Fendy sangat biasa-biasa saja dimata dewan juri dan DEA yang membawakan lagu milik Indah Dewi Pertiwi, Baru Aku Tahu Cinta Itu Apa mendapat Pujian yang kesekiankalinya dari dewan juri dan malam itu DEA telah menjadi yang Terbaik. Seharusnya dewan juri berhak menentukan kontestan yang pulang tiap minggunya, jika itu berlaku maka malam itu Fendy atau Gilang yang akan pulang. Ironi memang Superstar yang di cari Indonesian Idol dan Superstar itu ada ternyata di singkirkan. Saat Dea dinytakan pulang oleh Daniel ke 4 dewan juri hanya ternganga karena Idola sesungguhnya harus kandas begitu juga jutaan penonton hanya bisa diam karena keputusan SMS yang tidak diadili oleh dewan juri.
Sekarang tersisa 10 orang calon superstar dan 5 diantaranya tidak punya kualitas
Super Star meraka adalah FENDY, KEYKO, IGO, GILANG & WINDRA.
Sekarang apa jadinya wibawa Indonesian Idol 2010 bertema Be a Superstar telah RUNTUH.
Sekarang tidak berbicara soal idola atau dukungan tetapi bicara soal kualitas.
Orang yang paham musik tentu bilang bahwa Dea Berkualitas dengan vocal nge-Rock yang dimilikinya dan orang
yang awam dengan musik tentu akan bilang bahwa Dea Sangat Berkualitas.
Kita harus sadari dalam kompetisi ada kalah ada menang dan tetapi kekalahan Dea sangat tidak wajar karena masih ada 5 orang kontestan yang penampilannya di spektakuler Indonesian Idol 2010 biasa-biasa saja.
Senin, 03 Mei 2010 | By: Rahman Raden

ARTIS DANGDUT PALING KONTROVERSI DI PILKADA


Beberapa minggu terakhir public tanah air diguncang kabar yang cukup heboh dan mengjutkan, semua media ditanah air menyorotinya, mengupas secara tajam sampai ketitik terkecil. Masyarakatpun juga ingin mencari tahu lebih banyak lagi, baik melalui media elektronik maupun media cetak.
Media berlomba-lomba memberikan informasi paling terbaru untuk menarik perhatian masyarakat. Kita sebagai penikmat berita ikut merasakan betapa hebatnya pegaruh yang datang dari dua wanita cantik yang sama-sama berprofesi penyanyi dangdut ini yaitu Julia Peres alias Jupe dan Maria Eva. Seakan-akan kita ikut terlibat dalam setiap cerita yang disiarkan oleh media.
Jupe dan Maria Eva dua penyanyi dangdut yang sangat cantik mampu menguncang public ini dengan kabar pencalonan dirinya sebagai calon Bupati/ Wakil Bupati di Pilkada Jawa Timur. Mereka berdua sebelumnya pernah dikenal orang seantero Nusantara ini dengan catatan Pink (bukan merah-red) di mata masyarakat,
Seperti Julia Peres yang dikenal sebagai artis pengumbar aurat dengan pakaian seksinya, serta kasus rumah tangganya dengan Damian Peres yang tak kunjung selesai namun Jupe memilih berpacaran dengan pemain bola Gaston Castano dari pada menyelesaikan kasus keretakan rumah tangganya dengan pria bule dari Perancis itu. Sederet berita miring lainnya pernah menghampiri artis seksi ini. Hal itulah yang memicu kontroversi di kalangan masyarakat dengan pencalonan dirinya sebagai Wakil Bupati di tanah kelahiran Bapak Presiden SBY yaitu Kabupaten Pacitan Jawa Timur, sebuah kabupaten yang berada di selatan pulau Jawa dan di kenal sebagai daerah seribu Goa.

Berikutnya Maria Eva penyanyi dangdut yang dikenal public bukan karena prestasinya di dunia dangdut tapi karena skandal video mesumnya dengan wakil rakyat yaitu Zaini Yahya di tahun 2006.
Setelah vedeo mesumnya beredar dan kasus memalukannya itu reda kini Maria Eva kembali muncul dengan kabar terbarunya yaitu pencalonan dirinya sebagai wakil Bupati di kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Maria Eva cukup percaya diri mencalonkan dirinya di Pilkada kabupaten Sidoarjo, padahal di masyarakat sudah beredar kabar penolakan Maria Eva maju di Pilkada di daerah yang terkena semburan lumpur Lapindo itu. Maria Eva tidak perduli dengan masa lalunya, kini dia menatap kedepan dan tidak menoleh ke masa lalunya.
Dasar artis ditengah pencalonan dirinya di Pilkada kabupaten Sidoarjo masih sempat-sempatnya pula Maria Eva menyiapkan album solo terbarunya demi sebuah kata Eksis di dunia dangdut.
Ditengah banyaknya artis yang maju dalam dunia politik muncul opini bahwa para politisi sudah tidak mampu lagi mengkader anggota partainya. Saat ini banyak partai berkoalisi untuk menarik artis maju dalam Pilkada tanpa pernah melihat kemampuan si Artis tersebut dalam memimpin sebuah daerah.
Sekarang bagaimana menurut anda tentang artis seperti Julia Peres dan Maria Eva maju dalam sebuah Pilkada, secara mereka pernah membuat (maaf) catatan pink dalam hidupnya? Tapi ingat ini tanpa di kaitkan dengan artis yang juga berpolitik seperti Nurul Arifin, Dede Yusuf, Rano Karno, Rieke Diah Pitaloka dan Angelina Sondakh, ini khusus Julia Peres dan Maria Eva, tapi siapapun itu calon kepala daerahnya, dia harus mampu memimpin daerahnya dengan baik dari tidak maju menjadi maju dan mensejahterakan atau memakmurkan rakyatnya. Selamt memilih dan semoga anda tidak salah memilih.

AFGAN TERSANDUNG MASALAH HUKUM*

Semakin tinggi pohon yang tumbuh maka semakin kencang pula angin yang meniupnya. Pepatah ini sepertinya sangat pas melekat pada penyanyi solo pria yaitu Afgan Syahreza, karena ditengah popularitas yang sedang menanjak Afgan kesandung batu alias tersandung masalah hukum. Afgan di laporkan ke Poltabes Pontianak dengan kasus penipuan sebesar 100 juta rupiah oleh sebuah EO (event organizer) “Kenamaan” di Pontianak. Menurut EO Kenamaan tersebut Afgan sudah menerima uang muka sebesar 100 juta rupiah dari total kontrak sebesar 200 juta yang sudah disepakati oleh pihak Afgan maupun dari EO tersebut untuk sebuah acara besar yang di adakan di Pontianak.
Afgan juga melaporkan balik EO Kenamaan tersebut ke Poltabes Pontianak dengan tuduhan pencemaran nama baik. Afgan merasa kecewa dengan panitia penyelenggara konsernya tersebut hingga membuat Afgan batal tampil menghibur penggemarnya di Pontianak.
Sebelumnya sudah disepakati Afgan akan hadir di Pontianak bahkan Afgan menolak semua tawaran yang datang dari sejumlah TV pada hari tersebut demi memenuhi kontrak yang sudah di sepakati oleh Afgan dari panitia konser yang dari EO Kenamaan. Ketika hari H tiba EO tersebut sangat senang menyambut kedatangan Afgan.
Singkat cerita Afgan tiba di bandara Supadio Pontianak dan disambut begitu special oleh panitia konser dari EO Kenamaan itu dan Afgan dikalungi bunga mawar dan anggrek sebagai ucapan selamat datang di kota Pontianak. Tentu saja Afgan merasa senang dengan sambutan luar biasa tersebut.
“Setelah ini kita langsung ke Hotel, kita akan makan siang bersama, di sana sudah menunggu Arman Maulana, Kikan dan kawan-kawan” kata panitia pada Afgan.
“Wow senang sekali, kebetulan saya sudah tidak sabar ingin menikamti makanan khas Pontianak” Ujar Afgan penuh semangat.
Kemudian Afgan dan panitia serta rombongan masuk ke mobil, Afgan dan Ketua panitia duduk satu mobil sedan yang sangat mewah serta dua polisi sebagai pengawal dibelakangnya. Afgan dan panitia dari EO untuk konsernya tersebut langsung akrab dalam pembicaraan yang hangat terutama masalah persiapan konsernya.
“Maaf, ini memang tidak ada dalam kontrak. Ini atas permintaan para penggemar Afgan. Begini, Afgan akan di daulat bernyanyi dengan Arman Maulana dan Kikan alias duet nanti di atas panggung”
“Apa???!!!” Afgan terkejut mendengar pernyataan panitia konsernya itu.

~~~~~~~~~~~~~~~break sejenak sebelum melanjutkan bacaan ini~~~~~~~~~~~

Bukan, bukan masalah rencana duet itu yang menyeret Afgan ke Polisi dengan tuduhan penipuan. Saat rencana duet tersebut diberitahukan kepada Afgan dia sangat senang dan merespon dengan baik. Siapa sih yang nggak mau kolaborasi dengan artis tersbut, tentu saja Afgan mau.
Anda tentu penasaran apa penyebab hingga Afgan berurusan dengan Kepolisian? Ceritanya begini.
Setelah dari bandara Supadio Pontianak Afgan langsung ke Hotel, disitulah muncul masalah yang membuat Afgan gagal tampil di konser Spektakuler itu. Di depan hotel tempat Afgan menginap ada spanduk besar yang dibuat oleh panitia, tulisan spanduk itu begini.

“”Selamat datang di Konser Spesial GIGI AFGAN COKELAT””

Karena itu Afgan membatalkan konsernya hanya gara-gara rulisan di spanduk itu hingga membuat Afgan marah besar, maka oleh panitia Afgan dilaporkan kepolisi dan Afgan melaporkan balik panitia dengan tuduhan pencemaran nama baik melalui spanduk di muka public.
Memang konser itu tidak hanya menampilkan Afgan saja tapi juga di meriahkan oleh band GIGI dan band COKELAT.

*Ini hanya Fiktif, tulisan dibuat demi hiburan semata
Rabu, 28 April 2010 | By: Rahman Raden

Malam Pengantin Baru

CERPEN: Acara pesta pernikahanku sudah selesai, para undangan sudah pulang kerrumahnya masing-masing. Pernikahan yang menurut mereka penuh cinta telah terlaksana dan menjadi catatan penting dalam kehidupan. Rasa lelah menetubuhiku, bayangkan hamper tujuh jam aku duduk dikursi pelaminan bersanding dengan seorang pria pilihan orang tuaku. Dia Jamaludin, pria yang tak pernah hadir dalam hatiku.
Rasa canggung menyelimutiku saat mas Jamal begitu aku sebut, merebahkan tubuhnya didekatku. Aku yang lebih dulu berada diatas ranjang meresa tidak suka saat dia membelai rambutku. Akhirnya aku bangkit memilih duduj dikursi kamarku, karena aku masih belum bisa mengontrol diri.
“Kenapa dik Mia?” tanya mas Jamal heran.
“Aku nggak apa-apa, Cuma capek aja” kilahku untuk tidak mengecewakan suamiku itu.
“Aku tahu kamu pasti malu, atau mungkin ada hal lain?. Karena sebelumnya dik Mia belum pernah sekamar dengan seorang pria” mendengar ucapan mas Jamal aku hanya diam seolah mas Jamal tidak didepanku.
Maaf mas Jamal walaupun kita sekarang aku menjadi yang halal untukmu, tapi aku masih belum bisa mencintai sepenuhnya karena dirimu tidak pernah hadir sebelumnya dalam kehidupanku, hatiku berkata yang tidak sepetutnya terucap dari seorang istri sepertiku, Astaghfirlahiladzim.
Aku menikah dengan mas Jamal karena orang tuaku sangat memaksa sekali. Mereka beralasan usia 27 tahun bagi seorang wanita sepertiku sudah sepatutnya untuk segera menikah. Jujur aku tidak mencintai mas jamal, namun dia selalu datang hampir setiap malam untuk meyakinkan Bapak dan Ibu bahwa dia berharap mau menjadi istrinya.
Aku selalu menolak karena aku punya pilihan lain yaitu bang Sardi, pria yang menjadi tambatan hatiku sejak lama.
“Nduk, kamu toh sudah waktunya nikah, apalagi nak Jamal iku baik”
“Nggak, aku nggak mau nikah”
“apo sing kamu harap dari Sardi, dia itu hanya TKI yang nggak bisa menjamin masa depanmu nanti. Iya toh” kali ini bapakku kembali terang-terangan bicara soal bang Sardi.
“Pak, aku dan bang Sardi sudah empat tahun pacaran. Pokoknya Mia nggak mau nikah sekarang”
“Mia, kalau Sardi itu cinta tentu sejak dulu nikahi kamu. Eh, malah jadi TKI, illegal lagi”
“Bapak sok tahu” tambahku sambil beranjak masuk ke kamar.
Bang Sardi pernah berjanji kalau sekembalinya dari perantauan keluar negeri dia akan segera melamar dan menikahiku. Setelah tiga tahun bang Sardi ada dinegeri orang, mas Jamal hadir berusaha mengisi kekosongan hatiku. Dengan berbekal akhlak yang baik serta latar belakang yang baik pula dia berusaha meyakinkan orang tuaku, pada akhirnya bapak dan ibuku setuju. Menerima menjadi menantunya alias menjadi suamiku.
“Kalau, kamu kawin dengan Sardi, hidup kamu nggak bakalan enak yang ada nanti malah hidup melarat”
“Itu semua bukan tolak ukurnya, walaupun melarat asal aku dan bang Sardi bahagia jadi keluarga sakinah. Aku tahu kalau suatu hari aku menjadi istri mas Jamal, akan enak karena mas jamal orang berada. Harta bukan jaminan bahagia”
Aku merasa tersiksa, jiwaku galau ketika aku orang tuaku memaksa menikah. Ingin sekali rasanya aku menyusul bang Sardi atau lari kemana saja dari rumah tetapi aku tidak mau mencemari nama baik keluarga serta nama baikku. Orang kampung sangat menjaga harga diri. Biarlah aku tetap dirumah saja tapi jangan menerima pinangan mas jamal.
Aku bisa mengakui kalau mas Jamal memiliki banyak memiliki kelebihan di banding dengan bang Sardi. Selain sebagai PNS di lingkungan Pemkab, mas Jamal terbilang tampan, dari kalangan orang berada serta memiliki kulit yang sama sepertiku yaitu kuning langsat. Sementara bang Sardi tidak bisa menyamaahi mas jamal , yang membuat saya berteguk lutu pada bang Sardi adalah cinta dari hati sedangkan mas Jamal tidak ada cinta dariku untuknya.
Sementara bapak, ibu serta saudara-saudaraku sangat percaya kalau mas Jamal orang yang baik. Sementara aku semakin tak berdaya, hari demi hari berlalu seperti memikul beban ribuan ton, hingga akhirnya aku terjatuh dan luluh menerima pinangan mas Jamal. Seluruh keluargaku menikmati kemenangannya karena aku siap setengan hati menjadi istri mas Jamal. Aku merasakan sakit yang amat sangat, hatiku sakit karena mendustai ikrarku dengan bang Sardi..

***
Malam pertamaku dilalui tanpa ada sebuah jalinan antara aku dan mas Jamal, layaknya suami istri, menurut orang-orang malam pertama adalah malam surga bagi pengantin baru. Tetapi aku mampumelewati malam pertama itu tanpa ada gangguan yang membuat aku tak punya harapan seandainya aku kembali pada pelukan bang Sardi. Walaupun mas Jamal sempat mencium pipi dan memeluk, aku hanya diam tanpa reaksi karena aku tak berhasrat.
“Mas, akutak mengimginkan malam ini” bisikku pada mas Jamal.
“Baiklah, aku akan menunggumu sampai kamu siap” mas Jamal memahamiku keinginanku.
Aku dan mas Jamal tidur hingga pagi dating membawakan adzan subuh dan kokokan ayam. Aku melaksanakan sholah subuh secara berjamaah dengan suamiku. Menjelang pukul enam pagi aku sudah mandi dan segera menyiapkan sarapan pagi untuk mas Jamal. Hari ini mas Jamal tidak masuk kerja karena masih cuti selama seminggu dari pekerjaannya sebagai seorang PNS.
Saat kami sedang menikmati sarapan pagi tiba-tiba bapakku datng dengan seorang pria yang ternyata dia adalah om Parno keponakan bapak.
“Maaf pagi-pagi sudah bertamu”
“Oh tidak apa-apa” jawab mas Jamal.
“ini adalah omnya Mia dari Sumetera baru sampai tadi malam. Cuma nggak sempat kesini karena kelelahan” bapak mencoba menjelaskan keadaannya.
Akhirnya tiga orang pria tersebut terlibat pembicaraan yang menyenangkan, sedangkan aku hanya diam dan sesekali tertawa kecil karena aku masih belum percaya kalau aku sudah menjadi istrinya mas Jamal.
***
Ini adalah hari keempat aku menjadi istri dari mas Jamal dan aku lagi-lagi sering bermenung diri karena aku masih belum bisa mencintai mas Jamal. Walaupun aku sudah berusaha kuat melupakan bang Sardi yang kini menjadi TKI tetapi hati ini selalu menolak.
“Dek Mia, ada tamu tolong buatkan minuman” mas Jamal membuyarkan lamunanku.
“Siapa Mas?”
“Hasyim Sardi. Dia baru saja datang kemarin dari Malaysia karena mengantar temannya yang sakit di kampong sebelah” mendenagr ucapan mas Jamal aku terkejut setangah mati, seperti disambat petir disiang bolong. Darah seperti berhenti mengalir, dunia terasa lebih cepat berputar.
“Dek Mia, temuilah, dia ingin sekali bertemu denganmu. Aku tahu perasaan kamu sekarang tetapi kamu jangan terbawa oleh perasaan itu karena kamu …. istriku” dunia semakin berat saat mas Jamal mengatakan hal itu.
Rasa bersalah bersarang ditubuhku di lain hal aku bahagia bisa kembali manatap wajah bang Sardi. Aku harus melepaskan perkawinan ini dan aku akan kembali kepelukan bang Sardi. Pikiranku mulai ngawur tanpa berpikir baik buruknya.
Aku dating menemuinya diruang tamu dengan membawa secangkir the dan setoples kacang otom mulutku seperti terkunci saat aku ingin menjelaskan semuanya kepada bang Sardi.
“Selamat ya, semoga kamu bahagia dengan Jamal” ujar bang Sardi singkat.
“Maafkan aku bang, aku telah melukai perasaan abang. Tetapi abang harus harus tahu kalu semua ini paksaan dari orang tua. Bukan semata-mata aku menghianati abang”
“Dek Mia, abang yang salah karena hamper setahun tidak pernah memberi kabar. Orang tuamu tidak bersalah, aku yang harus kamu salahkan”
“Aku masih mencintai abang, aku akan ikut abang ke Malaysia” kemudian butiran bening jatuh di pipi, tangisanku tak bisa dibendung lagi.
“Tidak, sekarang kamu sudah menjadi istri orang, jadi abang tidak bisa bawa kamu. Aku tahu dek Mia masih mencintai abang”
“Bang Sardi!” aku sambil menangis kecil. Kondisi ruang tamu menjadi kaku dan bisa tanpa sepatah kata. Tidak ingin aku semakin terluka bang Sardi pamit pulang.
“Selamat berbahagia jadilah istri yang sholehah pada suami dan anak-anakmu nanti” kemudian bang Sardi pulang meninggalkan aku yang sedang menangis. Aku lihat mata bang Sardi membawa luka yang teramat dalam dihatinya.
Aku masuk kamar seraya mengusap air mata. Ahtiku semakin terluka saat harus berpisah dengan bang Sardi dan menjadi istri mas Jamal. Sedangkan mas Jamal berbinar mendengar ucapan terakhir bang Sardi.
“Ada SMS untuk kamu” mas Jamal menjulurkan tangannya dan memberikan ponsel yang ditangannya.
Dek Mia, berbaktilah kepada suamimu, kau ladang baginya. Berbabahagialah dan lupakan aku
Hasyim Sardi
Tangisku kembali pecah kemudian aku di peluk erat oleh mas Jamal, saat aku membaca SMS tersebut. Mas Jamal memelukku erat-erat dan menenangkan aku.
***
Ini malam ke tujuh dari malam pernikahanku, walaupun sudah jam dua belas malam tetapi mataku tidak bisa terpejam. Aku melihat mas Jamal tidur pulas disebelahku, ucapan dan SMS dari bang Sardi kembali teringat dan aku berusaha mengubur dalam-dalam perasaanku pada bang sardi dan mengobati luka hati ini denagn menjadi istri mas Jamal. Bang Sardi sudah melepaskan ak, dia tidak akan kembali padakulagi. Dia sudah merelakan aku menjadi milik mas Jamal.
Aku mencium pipi mas Jamal, dia terbangun dan membalikan tubuhnya menghadapku dan membisikan ditelingaku.
“Kau menginginkan malam ini?” Tanya mas Jamal.
Aku menjawab dengan sedikit tersenyum, dalam hitungan detik aku sudah berada dalam dekapan hangatnya dan melangkah kemalam surga yang bertabur kehangatan dan kepasrahan bersama suamiku mas Jamal.
Rabu, 21 April 2010 | By: Rahman Raden

DEPRESI

CERPEN: Memang tidak seperti orang pada biasanya, saat ini dia lebih banyak termenung, terkadang suka mengacak-ngacak rambut pendeknya yang bercabang. Memang dia pernah bilang kepadaku kalau dia suka melakukan hal tersebut karena otaknya disesaki oleh pikiran yang entah datang dari mana aku tidak tahu dan itu aku tahu sendiri karena masalah yang kerap datang padanya sangat sepela sebasar kutu dirambutnya tetapi dianggap besar olehnya seperti gajah afrika. Tetapi saat ini dia lebih lain dari pada biasanya, kadar termenungnya melonjak naik dari hari biasanya, sekarang otaknya sudah mulai mengolah masalahnya naik menjadi rata-rata 70% dari pada hari biasanya, sebuah kenaikan angka yang signifikan menurutku.
“Mungkin dia mengidap penyakit mematikan?”
“Tidak”
“Mungkin ada masalah dari pekerjaan barunya?”
“ Tidak juga”
“Kenapa?”
“Aku juga tidak tau yang jelas aku tidak mau ambil pusing. Sebenarnya aku kasihan juga tetapi dia lebih banyak sombongnya sehingga aku agak gimana gitu! tau sendirikan kamu bagaimana sifatnya aku yang kadang sedikit cuek”
Dua jam lagi aku harus berangkat menemui dia untuk mengabarkan sesuatu yang pasti lebih dari berita utama koran besok pagi yang pasti membahas tentang masalah korupsi pejabat di Jakarta yang terkuak beberapa minggu ini.
“Nanti kalau aku sudah mengabarkan pada dia, aku akan beri tau kamu agar kamu tidak tulalit ketika berbicara dengan dia mengenai masalah ini”
***
“Maaf tuan nyonya sedang keluar” kata Painem pembantunya.
“Pergi kemana ya?”
“Tidak tahu juga tuan. Sepertinya tadi nyonya sangat tergesa-gesa hingga nyaris menabrak kucing dipinggir jalan, tuan”
“Oke, kalau begitu besok sore saya kesini lagi. Sampaikan pada dia besok aku mau bertemu dengannya penting”
***
Jarum jam seakan sengaja mempermainkan aku, bayangakan saja untuk menunggu jam empat sore seperti menunggu jam 24 ketika jam 1 siang. Sepertinya matahari mundur walaupun aku sudah menghilangkan kejenuhanku dengan beraktivitas, namun tetap saja waktunya segitu-gitu aja. Alarm berbunyi tanda waktu jam 4 sore di mulai, sesuai janji saya kepada pembantu yang kemarin bahwa hari ini jam 4 sore saya akan kembali menemuinya untuk menanyakan apakah si empu rumah ada di rumah. Tinggal menunggu jawaban, kalau di jawab ada berarti saya bisa duduk di ruang tamu yang kata tetangga sebelahnya adalah ruang tamu super mewah kuadrat. Tetapi sebaliknya kalau tidak ada berarti “Mimpi Kali Ye…!”
***
“Sebanarnya masalah itu datang sejak saya masih SMP kelas 3” Ujar Dena lembut.
Niat saya ingin mengabarkan berita penting pada Dena tidak terlaksana karena dia lebih banyak bercerita tentang masalah yang tidak jelas, akupun jadi malas menceritakannya. Depresi, gumamku.
“Dena, aku sudah tau itu sejak kita duduk di bangku SMA tetapi sampai sekarang kamu belum mengatakan persoalan sebenarnya. Aku amati kamu sekarang lain dari pada biasanya”
“Ah itu penting tak bagimu”
“sebagai seorang teman aku punya hak untuk tahu”
“Iya kamu seorang teman bukan seorang ibu yang pernah memberiku ASI ketika aku masih bayi”
“apa maksudmu?”
“Fadil, sudah aku bilang kamu tidak perlu tahu. Biarlah tuhan dan almarhum ibuku yang tahu atas masalah yang menimpaku. Jika semua orang tahu apa yang aku alami sekarang mereka akan menjauhiku termasuk kamu”
“Itu tidak mungkin, seberat apapun masalah dalam dirimu aku akan tetap bersamamu”
“Sudahlah aku capek. Aku mau makan saja, kalau kamu mau ayo ikut makan bersamaku. Bibi Ena membuat menu special hari in”
“Hentikan ocehanmu itu” mendengar ucapanku, Dena tertawa seperti nenek lampir berhasil menangkap kurcaci. Ngeri, melengking, takut dan sejuta kata seram lainnya
***
Ya terserah, itu adalah takdir yang memang di tulis di lauful mahfud. Aku akan menjadi diriku sendiri, menjalani hidup yang deras seperti sungai yang meluap kala hujan. Tuhan tahu misi hidupku maka jangan heran jika aku suatu hari nanti mendapatkan kemenangan hati. Itu karena aku melakukannya dari hati bukan dari buah pikiran yang kejujurannya diragukan oleh ahli ESQ. Bukankan demikaian? Ah itu tak penting yang penting sesuatu harus di mulai dari hati. Selamat tinggal Dena semoga nanti kamu sembuh dari penyakit anehmu itu. Yang menurutmu itu adalah masalah tetapi menurutku kamu gila tanpa sebab.
Sekarang aku tidak lagi membayangi kamu sedih hanya karena masalah itu. Bikin repot saja ketika kamu telpon aku saat aku tidur dipangkuan mimpi. Hari demi hari telah terlawati tetapi dirimu masih selalu menjadi biang perusak mimpi malamku.
Maafkan aku Dena, kamu jangan mengganggu hidupku sekarang. Aku jengah mendengar keluhan masalahmu yang tidak jelas itu.
Salam dari shabatmu Yoga Fadil bin Alifian Putra ”
Itulah surat terakhirku untuk Dena yang aku kirim tanggal 12 Maret dan sekarang tanggal 09 maret, berarti tiga hari lagi aku harus tiup lilin untuk merayakan satu tahun usia surat terakhirku untuk Dena.
***
Dena adalah gadis cantik yang cerdas, memiliki aura wanita seperti bidadari yang turun dari sayap malaikat. Aku mengenalinya ketika aku tanpa sengaja satu kelas ketika SMA. Aku adalah pria indo keturunan jerman, belanda dan madura. Aku lahir di rumah mewah dekat gedung parlemen kota Amsterdam. Sebulan dari meniup lilin ultah yang ke 5 aku diboyong kerumah nenek di kota Munich sebuah kota yang menyimpan sejarah kehidupan kelam bagi kakek. Ah itu dulu tidak penting dibahas kini aku bergelimang harta seperti Dena yang selalu mandi uang. Aku dan Dena adalah dua mahluk tuhan yang tercipta menikmati surga dunia diatas sejuta mimpi orang miskin
Sejumlah perusahaan ayahku bertebaran seantero Nusantara dan Asia, bahkan sekarang ayahku menyandang sebagai orang terkaya di Asia Tenggara. Semua mata tertuju padaku, bahkan aktris termahal dinegari ini pernah membuat gossip murahan kalau dirinya berpacaran denganku.
Setelah selesai kuliah, hingga sekarang aku belum bekerja karena warisanku sudah lebih dari cukup hingga tujuh turunan. Hal senada juga terjadi pada Dena dia anak seorang mantan menteri dinegeri ini, perusahaan ayahnya juga berkembang pesat.
***
“Apa…??? Bohong…!!! Tuhan…!!!”
Aku jatuh tersungkur mendengar Dena bunuh diri. Kini dia meninggalkan jasad yang siap dikubur oleh orang yang simpati padanya.
Aku terlahir sebagai Gentle Man, atau lebih pasnya aku adalah lelaki sejati, lelaki tegar. Tetapi aku tidak lupa kalau gelar itu dari tuhan. Tuhan yang mengilhami pada semua orang bahwa aku Lelaki sejati. Tuhan yang memberi dan itu milik tuhan, jadi wajar-wajar saja ketika tuhan mengambil dariku.
Bukti dari semua itu yaitu aku menagis seperti bayi yang tidak diberi ASI oleh Ibunya.
“Kenapa itu bisa terjadi?” tanyaku penuh penasaran
“Dena tewas terjun dari lantai 45 di menara Petronas”
“Terjatuh?”
“Dia Bunuh Diri”
“Kapan dia ke Malaysia?”
“Tiga hari sebelumnya dari kabar yang saya peroleh, Dena depresi berat”
“Kenapa harus di manara Petronas, bukankan di Sudirman dan di MH Thamrin banyak gedung-gedung tinggi?” aku terus bertanya.
“Kalau di Indonesia pasti akan menjadi berita Nasional, kalau disana akan menjadi berita Internasional ‘Seorang Wanita Indonesia Terjun dari Lantai 45 Petronas Malaysia’ demikianlah koran-koran dunia menulis berita itu. Tetapi itu masih mungkin” Mendengar penjelasan bapak tua itu aku hanya mengangguk setuju dengan pernyataan itu..
***

Sekarang aku semakin dibuat penasaran, walaupun kematian Dena sudah berlalu sejak 10 hari yang lalu aku masih saja dihantui perasaan penasaran, depresi apa yang menderanya hingga harus diselesaikan dengan cara bunuh diri. Kadang aku menyesali harus meninggalkan Dena disaat dia pusing memikirkan masalahnya.
Polisi terus menyelidiki kasus kemungkinan Dena mati karena dibunuh dan dilemparkan dari lantai 45 menara Petronas Malaysia. Kasus tersebut terus bergulir karena berdasarkan otopsi dokter bahwa Dena dibunuh bukan bunuh diri. Aku tidak terlalu mengikuti kelanjutan kematian Dena, aku sengaja tidak mengikuti kasus terbunuhnya Dena karena aku tidak ma uterus-terusan larut dalam kesedihan.
Saat aku menyetir mobilku keluar dari garasi untuk pergi kesebuah café, aku dikejutkan oleh Painem, pembantunya Dena yang lama menghilang karena pulang kampung.
“Tuan, ada titipan surat dari almarhum non Dena seminggu sebelum dia meninggal”
“Kenapa baru diberikan sekarang?” tanyaku dengan rasa jengkel.
“Saya lupa tuan karena pulang kekampung”
Tanpa banyak buang waktu aku menarik surat yang masih tertutup rapat oleh perempuan tua itu, aku membaca kata demi kata yang ditulis oleh Dena, isinya singkat namun cukup membuatku menangis seperti bayi tidak diberi ASI oleh ibunya.
“selamat pagi, hidupku makin stress karena sudah hampir setahun kita tidak bertemu karena dirimu jengah dengan keluhan yang memang menurutku malu untuk diungkapkan. Jujur demi Tuhan Aku depresi karena aku dua kali menjadi korban pemerkosaan oleh guruku saat aku SMP, Itu yang membuat aku depresi berat dan trauma. Aku tidak berani jujur atas kisah gelapku karena aku mencintaimu jika aku mengatakan aku diperkosa dan mencintaimu, pasti kamu akan menolak isi hatiku ini.
Tetapi kalau kamu menerima aku dari sahabat menjadi kekasihmu aku tunggu paling lama lima hari lagi dirumahku. Tetapi kalu kamu tidak datang aku akan berangkat ke Malaysia untuk melepaskan semua beban yang ada dalam otakku ini. Aku depresi”
Aku menangis sejadi-jadinya, sementara Painem yang berdiri didekatku terlihat seperti kecoa yang siap dibasmi. Seandainya pembantu itu segera memberikat surat itu sebelum dia pulang kekampungnya mungkin peristiwa yang menimpa Dena tidak akan terjadi.
Aku lebih memilih menangis saat emosiku naik daripada membasmi Painem, pembantu yang sudah tua dan mulai pikun itu, aku tidak boleh membasminya karena bisa berakibat aku menginap di Hotel Prodeo, Painem hanya menganga dengan tingkahku yang menurutnya aneh, seorang Lelaki yang sudah dewasa menangis seperti anak kecil.
Sabtu, 17 April 2010 | By: Rahman Raden

KABAR SEKILAS*


CERPEN: Sebelum adzan subuh berkumandang, Tejo sudah bangun dari tidurnya untuk melanjutkan perjalanannya menuju kota Surabaya untuk mengantar hasil ternak yaitu susu kuda liar dari Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Setelah melakukan perjalanan jauh hampir dua hari dari NTB ke pelabuhan Ketapang Banyuwangi, pagi itu tejo bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya setelah sebelumnya istirahat disekitar pelabuhan sejak pukul sembilan malam, kini dia bersama temannya Farid serta tiga rombongan truknya akan berangkat kekota Surabaya.
Perjalanan ratusan kilometer tentu membutuhkan stamina yang banyak apalagi perjalanannya masih jauh. Pagi itu Tejo mengkonsumsi obat sakit kepala untuk menghilangkan rasa pusing dikepalanya karena kelelahan walaupun semalam sudah minum suplemen penambah stamina namun itu tidak mampu melenturkan syaraf-syarafnya sehingga sakit kepala sering saja muncul baik dalam maupun setelah perjalanan jauh. Mesin truk pun dipanaskan untuk melanjutkan perjalanannya, setelah hampir 25 menit dipanaskan dan dianggap cukup truk dengan nomor polisi “L 1221 PN” itu berangkat meninggalkan pelabuhan Ketapang kabupaten Banyuwangi.
Selama dalam perjalanan tidak lupa Tejo mendengarkan musik dangdut lewat tape yang ada ditruknya untuk menghilangkan rasa jenuh sementara rekannya Farid asyik makan roti untuk menu sarapan dalam perjalanan panjang ini.
“Mau? dalamnya isi kacang ijo” Farid menawarkan roti yang dimakannya.
“Bukakan bungkusnya” jawab Tejo kalau dirinya ingin roti tersebut.
Perjalanan mereka terus berlanjut karena Tejo tetap konsentrasi saat mengendarai truknya yang bermuatan penuh berisi susu kuda liar dari tanah Sasak. Farid menikmati perjalanan itu dengan menghisap rokok kretek ditangannya. Farid memang seorang perokok berat dan kepalanya manggut-manggut bukan karena ngantuk tetapi asyik menikmati Pacar Dunia Akhirat-nya Rita Sugiarto, sebuah lagu dangdut lawas namun tetap asyik ditelinga.
Tanpa terasa perjalanan sudah memakan waktu satu jam artinya perjalanan mereka sudah berada di kabupaten Situbondo. Mulut Tejo menguap seperti orang mengantuk namun tetap saja Tejo fokus pada kemudinya.
***
Setelah melaksanakan sholat subuh, bu Saena sudah mulai membereskan rumahnya yang sudah tua. Putra tunggalnya yang masih pelajar SMA masih tidur dikamarnya karena pagi itu udara terasa dingin sehingga dia lebih akrab dengan selimut tipisnya. Sementara sang suami bu Saena yaitu pak Karim sedang membetulkan rantai sepedanya yang kendur.
“Yono, bangun to nak sudah siang” kata bu Saena.
“Iya bu” sahut Yono setelah mendengar ibunya membangunkan tidurnya, maka anak itu bangun dari kasurnya, setelah itu dia pergi kesumur untuk mandi. Pada biasanya membantu orang tuanya membuka warung tempat meraka berjualan dipinggir jalan raya depan rumahnya sebelum berangkat ke sekolah.
Pak Karim dan istrinya bu Saena adalah penjual makanan seperti nasi, kopi, mi goreng, dan berbagai macam kue-kue buatanya, kue titipan tetangga serta makanan ringan dalam kemasan bermerek.
Warung itu bernama “Warung Sejahtera” karena warung yang berada disisi kiri jalan raya itu benar-benar memberikan kesejahteraan bagi keluarga pak Karim sejak puluhan tahun yang lalu. Warung sedarhana berdinding gedhek atau terbuat dari bambu-bambu yang dianyam menyerupai tikar pandan, walaupun warung itu sederhana tetapi pelanggannya cukup banyak karena letaknya dipinggir jalan raya Arjasa yang merupakan jalur pantura di kabupaten Situbondo yang cukup ramai dilalui kendaraan lintas daerah.
Setelah warungnya dibuka maka pembelipun berdatangan, ada yang sekedar minum kopi, ada juga yang sarapan serta beberapa ibu-ibu mengantarkan sejumlah kue yang dititipkan pada Warung Sejahtera.
Pak karim dan istrinya bu Saena sibuk melayani pembeli diwarungnya, karena pagi itu benar-benar ramai dikunjungi pembeli, sementara Yono duduk dikursi depan warungnya untuk menunggu mobil angkutan penumpang menuju sekolahnya. Diwarung tersebut juga banyak teman-teman sekolah Yono yang sarapan diwarungnya sambil menunggu angkutan menuju sekolahnya.
***
Suasana yang carah mewarnai pagi keluarga dokter Junaidi. Nyanyian burung Beo peliharaannya bernyanyi sesuka hati. Istrinya yaitu ibu Dinda baru saja datang dari pasar belanja sayur dan ikan untuk makan siang nanti, akhirnya istrinya tidak sempat membuat sarapan untuk suaminya, biasanya yang belanja pembantunya namun karena kakinya keseleo akhirnya tidak bisa berbelanja pagi itu. Dan bayi mungilnya asyik bicara sendiri tanpa makna, bener-benar tidak dimengerti. Hanya kesan lucu dan gemas bagi siapa saja yang mendengar dari mulut bayi mungil yang belum bisa berbicara itu.
Dokter Junaidi berpamitan pada istrinya, ibu Dinda dan mencium anaknya yang masih berumur 18 bulan ketika berangkat kerja ke Puskesmas Kecamatan Arjasa. Tidak pada biasanya anak dokter Junaidi yang digendong istrinya menangis setelah dicium olehnya padahal pada biasanya tidak begitu ketika dokter Junaidi berangkat kerja. Firasat.
“Lo, anak ayah kok nangis” kata dokter Junaidi pada bayinya sambil mengelus rambutnya. Istrinya berusaha menenagkan anak yang digendongnya.
Kemudian dokter Junaidi berangkat menuju tempat dia bertugas dengan sepeda motor barunya. Dalam perjalanan dokter Junaidi singgah di warung “Sejahtera” langganannya untuk sarapan pagi, memang jika istrinya tidak membuat sarapan dokter Junaidi sarapan diwarung Sejahtera dipinggir jalan, seratus meter dari tempat dia bekerja di Puskesmas Kecamatan Arjasa.
“Assalamualaikum”
“Waalaikusalam, eh, pak dokter silakan pak mau sarapan apa?”
“Seperti biasa pak, lauknya tempe-tahu saja”
“Baik pak Dokter”
Oleh warga sekitar dokter Junaidi lebih akrab dipanggil Pak dokter atau dokter Jun. Dokter Jun adalah seorang dokter yang sudah dua tahun bertugas di Puskesmas Kecanatan Arjasa. Kabaikan dan keramahan dokter Jun membuat dia cepat dikenal dan diakrabi oleh warga walaupun dokter Jun asli dari Makassar tetapi dia mudah berbaur dengan lingkungan yang berbeda adat dan kebiasaan.
Diwarung Sejahtera tersebut mulai beranjak sepi karena pembeli sudah pulang membeli kebutuhan untuk sarapan paginya. Dokter Jun serta bersama lima orang lainnya masih menyantap nasi dipiringnya. Sesekali terlibat perbincangan penuh keakraban diantara mereka. Walaupun sebenarnya sedikit bising dengan kendaraan yang mulai ramai melewati jalan, pagi sudah memaksa orang-orang untuk segera beraktivitas masing-masing.
******
Tanpa terasa perjalanan sudah memakan waktu satu jam artinya perjalanan mereka sudah berada di kabupaten Situbondo. Mulut Tejo menguap seperti orang mengantuk namun tetap saja Tejo fokus pada kemudinya. Perjalanan terus berlanjut tanpa ada keluhan pada rekannya Farid. Mulut Tejo kembali menguap dan matanya mulai berat, Tejo benar-benar mengantuk sedangkan Farid tidak mengetahui kalau sopirnya tersebut sedang mengantuk sebab semalam Tejo sudah istirahat dengan cukup.
Tejo berniat menggantikan posisinya pada rekannya Farid karena mengantuk yang datang secara tiba-tiba, tanpa disadari olehnya bahwa rasa kantuk itu disebabkan oleh obat sakit kepala yang diminum sebelum dia berangkat, obat tersebut ternyata menyebabkan kantuk.
Rasa kantuknya sudah tidak tidak bisa ditahan, Tejo ingin mengutarakan niatnya untuk minta ganti pada Farid untuk menyetir truk yang dia bawa. Semuanya terlambat, Farid sudah terlempar kejalan raya.
***
Suasana diruangan itu berkabung, Yono yang masih berseragam sekolah terus membaca Istigfar berkali-kali sambil berusaha tegar namun dari matanya yang memerah nampak sekali bahwa jiwanya terpukul dan bersedih serta mengharap keajaiban memihaknya. Tidak jauh dari tempat duduk Yono, istri dokter Junaidi, ibu Dinda juga menangis sedih sambil menggendong buah hatinya, serta bebarapa orang yang ada diruangan itu juga mengalami hal yang sama dengan Yono dan ibu Dinda, semuanya mengharap mukjizat dari Allah SWT.
Farid juga tampak sibuk menghibungi keluarga Tejo di Solo Jawa Tengah serta keluarga dirinya di Madiun Jawa Timur. Kepanikan terlihat jelas dari wajah lelahnya, sambil bersandar disebuah papan tembok bertuliskan Rumah Sakit Umum Daerah Situbondo, Farid sejenak mengusap wajah dengan kedua tangannya sambil berdoa. Farid kembali masuk kedalam ruangan dimana ruangan tersebut terdapat Yono dan ibu Dinda sedang menangis duka cita.
***
Setelah iklan bermunculan selama lima menit, televisi swasta National TV masuk pada acara beriktnya yaitu berita singkat atau Headline News pada jam sebelas siang.
“Selamat siang pemirsa berjumpa lagi di Kabar Sekilas pukul sebelas bersama saya Rahma Sarita. Untuk informasi kali ini kita sekarang sudah terhubung dengan reporter National TV Dinna Andini dan kameramen Surya Nasution di Situbondo Jawa Timur, silahkan Dinna ada berita apa siang ini untuk Kabar Sekilas?”
“Baik, Rahma. Berita kali ini dari peristiwa kecelakaan. Pemiras, sebuah kecelakaan terjadi di jalan raya Arjasa Situbondo Jawa Timur tadi pagi sekitar pukul tujuh WIB, sebuah truk dengan nomor polisi ‘L 1221 PN’ bermuatan susu dari Sumbawa Nusantara Tenggara Barat tujuan Surabaya Jawa Timur menabrak sebuah warung dipinggir jalan. Selain lima orang cedera dalam kecalakaan tersebut juga menelan empat korban tewas. Lima orang yang cedera masih dalam perawatan, sementara empat korban tewas masih berada di kamar jenazah, korban tewas tersebut adalah sang sopir truk bernama Tejo, sepasang suami istri pemilik warung tersebut serta seorang dokter yang ketika kecelakaan berada diwarung tersebut. sementara kenek truk naas tersebut selamat tanpa sedikit luka pada tubuhnya. Diduga kecelakaan tersebut disebebkan sang sopir mengantuk karena pengaruh obat sakit kepala yang diminumnya”
Kemudian dilayar muncul wajah Farid sedang diwawancarai sebagai saksi, dia kembali menegaskan bahwa sopir mengantuk karena pengaruh obat yang diminumnya. Kemudian muncul wajah Yono yang juga diwawancarai reporter National TV.
“Iya mbak, bapak dan ibu saya meninggal. Saya nggak tahu lagi harus gimana” jawab Yono sedih saat diwawancarai.
“Demikian Rahma untuk Kabar Sekilas NationalTV siang ini” kata Reporter National TV, Dinna Andini.
“Iya terima kasih Dinna di Situbondo Jawa Timur atas laporannya. Demikian Kabar Sekilas siang ini, anda bisa mengikuti berita selengkapnya di Kabar National pukul dua belas nanti. Saya, Rahma Sarita undur diri dari hadapan anda terima kasih atas perhatiannya, sampai jumpa” tutup wanita cantik di layar televisi itu seraya tersenyum. Acara TV kembali dilanjutkan.