Selasa, 19 Oktober 2010 | By: Rahman Raden

Pria Itu Bernama Abeng


Cerpen: Malam itu Adi, Erdi, Lutfi dan Faton masuk kesebuah tempat yang sangat ramai sekali oleh anak-anak dan remaja.
“Bola bang!” kata Faton.
“Sisa nomor lima”
“Nggak apa-apa bang, Cuma dua orang yang main” sahut Lutfi.
“Iya, tunggu disamna” kata pria yang menjaga disitu.
Ditempat itu ramai sekali, peminat bola semua, sorak penonton dari speker riuh memekakan telinga terlebih dari sepuluh kursi yang tersedia semuanya main bola. Lutfi dan Faton memegang stik yang siap main bola, adi dan Erdy hanya menyaksikan layar milik Faton yang berduet dengan Lutfi. Dua remaja yang masih kelas dua SMA tersebut memang PS mania alias suka main Play Station. Jika mereka berdua tidak memiliki kegiatan mereka berdua lebih memilih menghabiskan waktunya main PS terutama pada hari minggu. Sedangkan Adi dan Erdi juga senang main PS tetapi tidak seperti Lutfi dan Faton yang sudah jadi PS Mania.
Adi dan Erdi yang tidak ikut main game tersebut juga terlibat dalam sorak teriak ketika bola menembus dalam gawang meskipun berupa game. Permainan mereka semakin seru setelah gol demi gol tercipta oleh masing-masing pemain yaitu Lutfi dan Faton.
Setelah puas bermain selama dua jam mereka memutuskan pulang karena banyak pengunjung sudah pulang. Mereka semua sepakat untuk pulang karena dianggap cukup serta mata sudah mengantuk.
Seratus meter dari rumah om Karman tempat mereka menginap, pikiran Lutfi dirasuki oleh ide makan soto diseberang jalan, karena ide tersebut dianggap cemerlang maka tiga orang temanya setuju untuk makan Soto.
“Soto pak, empat”
“Iya, tunggu sebentar” kata pedagang tersebut.
Setelah menunggu hamper lima menit, ayam goring, telur rebus yang dipotong kecil bumbu koya menutupi nasi dan soto siap disantap oleh empat sekawan tersebut.
“Pak ada cabe rawit, nggak?” pinta Adi
“Tunggu sebentar dek”
“Pak, harga kerupuk ini berapa?” Tanya Lutfi.
“Ini cabenya dan kerupuknya satu, 500 rupiah. Satu-satu ya, ngomongnya”
“Galak nih” sahut Erdi, penjual soto itu hanya senyum terpaksa.
Saat mereka berempat sedang menikmati sotonya, mereka dibuat heran dengan sosok pria kurus sedang marah diseberang jalan sana. Entah marah pada siapa, mereka berempat tanpa mengomentari kejadian tersebut karena melihat penampilan dan tampang pria yang marah-marah sambil berteriak itu sepertinya orang tidak waras. Rambutnya acak-acakan tanda tidak pernah tersentuh air apalagi shampoo. Bajunya kusam tanda bahwa orang itu tidak pernah ganti baju. Gembel banget.
Setelah membayar semua, mereka berempat kembali pulang ke rumah om Karman dengan berjalan kaki. Rumah om Karman adalah tempat persinggahan Faton ketika pergi ke kota Malang. Faton adalah keponakannya om Karman, sementara Adi, Erdi dan Lutfi hanya pengikut saja. Mereka sangat akrab dengan om Karman karena faton sering megajak mereka bertiga kerumah pamanya itu. Kadang mereka berempat kerumah om Karman diakhir pecan, setiap sabtu sore mereka pulang ke rumahnya di Kepanjen kawasan Malang selatan. Dalam sebulan mereka bisa sampai satu sampai dua kali kerumah om Karman.
Sejak kelas satu SMA mereka berteman hingga sekarang sampai satu sekolah menyebut mereka Boy Band School oleh teman-temannya karena selain tampan mereka selalu kompak dalam bernyanyi ketika ada Pensi di sekolah ataupun dalam kegiatan lain. Pokoknya mereka School Idol deh, kata sisiwi-siswi.
Saat mereka asyik berjalan menuju rumah om Karman jam sebelas malam tiba-tiba ada seorang pria memanggil, ternyata pria yang memanggil meraka adalah pria yang menakutkan dan menjijikan.
“Saya?” tanya Erdi menanggapi panggilan orang yang yang memanggilnya itu.
Sebelum mendekati pemuda itu Faton memberi tahu pada teman-temannya.
“Kata om Karman, nama orang itu Abeng, pria itu agak tidak waras”
“Diakan pria tadi yang marah-marah saat kita makan soto!” sahut Adi
“Kalian dengar nggak? kesini cepat” pria itu kembali memanggil.
“Maaf bang, kita mau pulang. Sudah malam” Adi mencoba memberi alasan karena malas meladeni orang yang sakit jiwa.
“Kalian tinggal dimana?” tanya Abeng yang akhrinya dia sendiri yang mendekat.
“Tinggal dirumah om Karman” jawab Faton.
“Sekarang aku punya masalah, aku butuh bentuan kalian. Minta uangnya 200 ribu besok  pagi saya ganti” paksa Abeng.
“Dasar orang Gila’ bisik Adi pada Erdi.
“Kita tidak punya uang” tambah Erdi seperti membentak.
“Oh, kalian nggak punya uang? Bohong!” Abeng juga sedikit emosi.
“Oke, kami akan ambil uang. Kamu tunggu disini” Adi berusaha membohongi Abeng, agar bisa dengan cepat kabur dari cegatan Abeng yang Oon itu.
Tetapi yang dilakukan Abeng malah brutal, dia merampas HP Lutfi yang baru saja dibeli seminggu yang lalu, Hp milik Lutfi itu adalah type terbaru saat ini.
“Oke…oke…saya akan beri kamu uang asalkan Hp itu cepat kembalikan” kali ini Erdi merasa khawatir Hp milik Lutfi tidak dikembalikan, kedua Abeng mengeluarkan sebilah pisau kecil dari pinggangnya setelah merampas Hp tersebut.
Khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada malam yang sepi itu Erdi dan Faton pergi ke rumah om Karman dengan alasan mengambil uang sementara Adi dan Lutfi masih berdiam ditempat itu untuk mengawasi Abeng agar tidak kabur.
Akhirnya Faton dan Erdi berhasil mengumpulkan uang sebesar 150 ribu sebagai umpanan pada Abeng.
“Ton, kamu bawa batu untuk jaga-jaga”
“Batu?”
“Iya, cepat cari dibelakang sana” akhirnya menemukan batu yang cukup besar.
Saat mereka sedang sibuk sendiri tiba-tiba om Karman muncul dari kamarnya sambil bertanya kapada Faton dan Erdi yang ada diruang tengah. Mereka berdua menceritakan kejadian sebenarnya pada om Karman, namun mereka merahasiakan kalau Abeng mengeluarkan sebilah pisau karena menurutnya tidak mau merepotkan dan bercampur dalam masalah ini. Meereka mau menyelesaikan sendiri, apalagi dia hanya sebagai tamu diwilayah itu.
“Hati-hati saja, Abeng itu gila” ujar om Karman.
“Iya om, kita pasti bisa” kata Erdi
“Masa kalian kalah dengan orang gila sendirian. Kalian berempat, waras lagi”

Mereka berdua menuju jalan raya dimana Adi dan Lutfi menunggu cemas sementara Abeng berdiam dengan ketidakwarasannya. Rumah om Karman berjarak sekitar 20 meter dari jalan raya, ketika berada dimuka gang, Faton dan Erdi terkejut saat melihat Abeng tertawa terbahak-bahak sambil mengisap rokok.
Mereka berdua menghampiri Adi dan Lutfi yang ternyata Hp itu sudah ditangannya.
“Hem, dasar Oon!” kata Erdi.
“Ayo kita pulang” ajak Erdi pada Adi dan Lutfi.
“Maksih ya dek rokoknya. Besok-besok kesini lagi atau singgah ke rumah didepan wartel itu” ujar Abeng seolah tidak pernah terjadi apa-apa karena ketikwaranya itu dia menjadi sedikit tenang.
Adi, Lurfi, Faton dan Erdi segera pulang kerumahnya om Karman karena sudah larut malam.
“Untung tadi Adi mengeluarkan rokok” cerita Lutfi pada kedua temannya.
“Kok bisa begitu?” tanya Erdi penasaran. Kemudian Adi menjawab.
“Begini, ketika kalian pergi, aku mengeluarkan rokok terus Abeng minta satu batang, ya…aku kasi dua batang. Kemudian Hp Lutfi diletakan disampingnya…”
“Aku ambil deh! Dikira akan marah ternyata dia ketawa ngakak” potong Lutfi. Mereka berempat tertawa dengan tingkah Abeng yang sakit jiwa itu.
“Dek, rokoknya habis. Mana uangnya?”
Mereka berempat terkejut melihat Abeng bersuara debelakngnya.
“Ini, aku punya rokok ambil semua. Uangnya kami ambil dulu” komentar Adi.
Tatapan Abeng tampak lain, pria jangkung itu seperti singa yang akan menerkam anak rusa, matanya merah. Dengan berani Lutfi menyerahkan rokok dari Adi itu pada Abeng walaupun dengan rasa gugup. Adi danToni mundur selangkah untuk siap-siap lari sedangkan Erdi masih diposisi semula.
Rokok dari Lutfi sudah ditangan Abeng, kemudian pria berkulit gelap tak waras tersebut menarik tangan Lutfi dan mengeluarkan pisau dari pinggangnya. Menyaksikan reaksi bahaya itu, Erdi berusaha menolong Lutfi namun kalah cepat, Lutfi sudah terluka terkena jilatan pisau Abeng. Lengan Lutfi berdarah oleh goresan pisau lelaki gila itu segara ditolong oleh Adi dan Faton sementara Erdi mengejar Abeng yang berusaha lari sambil memgang sebuah batu yang tadi dibawanya.
Abengterus berlari sekencang-kencangnya sementara Erdi berusaha melemparkan batu yang ditangannya pada Abeng. Saat dalam pengejaran dipinggir jalan Abeng berbelok dan menyebrangi jalan sambil terus berlari, tubuhnya terhempas ditabrak truk pengangkut semen. Aneh memang ternyata Abeng bangkit dan kembali berlari sekencang-kencangnya dengan sebungkus rokok yang masih ditangannya, pria sinting itu tidak mengalami sedikit luka atau cedera pada tubuhnya meski ditabrak oleh truk yang sedang melaju.  Erdi, Adi, Faton, Lutfi serta sopir truk dibuat takjub atas peristiwa yang baru saja terjadi pada Abeng.

Temui Aku


Cerpen: Bayangan tidak lagi memanjang menandakan matahari pagi mulai beranjak tinggi. Nuansa dingin masih sangat terasa karena kemarin sore hujan sangat lebat turun, namun tidak menyurutkan semangatku untuk bangun dari tidur untuk mandi apalagi jika mendengar suara mangkok ditabuh dengan sendok masuk ke komplek, bertanda mang Udin sudah melancarkan aksinya berjualan yang setiap pagi ia lakukan.
            Aku menampakkan wajahku di muka teras sambil memanggil mang Udin untuk mendekat dan mengutarakan niatku dan mang Udin seketika itu juga mengambil suduk panjang dan mangkok untuk mengambil bubur kacang hijau pesananku, walaupun bulan tak lagi muda tetapi tidak ada masalah yang penting lunas di awal bulan.
            “Gimana, siapa namanya?” tanya mang Udin
            “Sudah, namanya Tiara, aku juga punya nomor Hpnya juga”
            “Berarti, sudah dua langkah kamu maju?”
“Tentu, siapa dulu Lukman” jawabku bangga pada mang Udin.
Mau tahu apa yang aku bicarakan dengan mang Udin? adalah Tiara yang setiap pagi aku selalu bertemu dengannya saat aku berangkat atau pulang dari kuliah. Gadis itu selalu membuat aku penasaran dan bawaannya selalu berkesan walau aku tidak pernah berduaan dengannya.
“Terima kasih mang”
“Sama-sama Boy” sahut mang Udin yang memanggil aku dengan sebutan Boy alias Boyke karena aku dianggap oleh mang Udin dan teman-teman berpotensi menjadi seksolog seperti dr. Boyke walau aku adalah seorang mahasiswa Hukum.
Setelah sarapan buburnya mang Udin dengan status ngutang, aku segera berangkat kuliah meleawti gang sempitdiantara pemukiman padat warga, aku tetap enjoy berjalan kaki apalgi ditambah hadirnya Tiara yang setiap hari bertemu saat saat aku kekampus, maklum nampaknya Tiara lebih asyik menghabiskan waktu di teras rumahnya berteman dengan majalah-majalah wanita.
Oh iya, aku lupa menceritakan mengapa aku lewat gang sempit setiap berangkat dan pulang dari kampus. Begini, Fakultas Hukum adalah jurusan yang aku pilih, kebetulan komplek Fakultas Hukum berada paling utara atau paling pojok dari semua jurusan yang ada dikampus. Jika aku lewat jalan raya, aku harus sama seperti pengguna jalan itu ialah melawan macet yang cukup lama, terus ditambah lampu merah dan gerbang kampusku yang ada di selatan. Sebenarnya kampusku memiliki dua gerbang masuk yaitubagian selatan dan utara, jadi gerbang utara ditutup pada jam-jam sibuk karena possisinya dekat dengan persimpangan jalan dan menambah kemacetan yang terjadi di jalan terutama pada pagi hari.
Kalau lewat gang sempit diantara pemukiman padat tersebut aku bisa menghenat  waktu. Jarak tempuh dari lokasi tempat aku Indekos yaitu 10 menit perjalanan bonus jalann yang teduh, biarpun padat warga masih peduli pada Global Warming, badan sehat karena jalan kaki plus bertemu dengan Tiara. Jika berangkat kuliah melewati jalan raya bisa ditempuh antara 20-30 menit karena kondisi jalan yang macet.
Kembali ke persoalan Tiara. Sifat murah senyum, cantik dan tampak sebagai gadis yang sederhana hingga membuat aku terpesona pada pandangan pertama. Mungkin aku sedang jatuh C…..? Lebay.
Kuayunkan kakiku setapak demi setapak digang itu dengan sedikit kencang. Kurang dari tiga rumah tempat Tiara bertahta, aku mengurangi kecepatan langkahku, maklum aja aku adalah  P3 (Pria Penebar Pesona) wajahku mengkerut karena pagi itu, ada sesuatu yang hambar karena Tiara tidak nampak lagi duduk santai diteras rumahnya.
“Nanti pulang kuliah pasti ketemu lagi” aku mencoba menghibur diri. Akhirnya aku menambah kecepatan langkahku menuju kampus tercinta.
Dikampus aku telihat bermenung diri membayangkan kembali kejadian saat aku berhasil mengajaknya bicara cukup lama hingga saling menukar nomor Handphone. Sedikit menyesal karena tidak punya nomornya. Pertanyaannya, kemana perginya Tiara kok, pagi tadi dia tidak muncul diteras rumahnya? Mungkin kepasar atau keluar kota jawab batinku.
“Hai Boy kok sepi, maksudnya kok diem aja” tanya Feri memecahkan lamunanku.
“Sial, lu Jang. Kaget tau”
“Gimana misinya, sukses?” Feri bertanya soal Tiara
“Sukses” jawbku singkat.
“Tetapi dikau masih bermuram durja” Feri kembali bertanya gaya penyair kondang.
“Tadi sewaktu aku berangkat kuliah, dia tidak nampak lagi duduk diteras seperti biasa”
“Lukman…Lukman… jadi cuma itu masalahnya?” mendengar pertanyaan Feri aku hanya diam tanpa menjawab reaksi.
Memang saat ini aku benat-benar tidak berlebihan, sejak bertemu dan kenal dengan Tiara aku dibuat kepikiran, sesalu ingin bertemu setiap waktu dan sejuta gejolak lainnya. Padahal aku sudah tujuh kali pacaran sejak SMP tapi baru kali ini aku merasakan sesuatu yang beda pada Tiara. Sekali lagi aku benar-benar tidak berlebihan apa yang aku alami sekarang, itulah adanya.
“Kamu sudah menghubungi atau belum?” Feri kembali bertanya
“Sudah, tetapi tidak aktif”
“Coba aja lagi, siapa tahu kali ini nomornya aktif” perintah feri padaku.
Aku mengambil Handphone-ku dikantong celana dan mencoba menghubungi Tiara kembali.
“Nomor yang anda tuju dedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan” tiba-tiba operator seluler menyambitnya, dicoba lagi ternyata benar tidak aktif nomornya.

***
Malam makin gelap pekat, jangkrik tak lagi berbunyi hanya jarum detik jam yang tiada henti berbunyi malam membawaku pada jam satu dini hari. Tubuhku terbaring diatas kasur sementara pikiranku jauh melayang. Usaha untuk menghubungi nomor ponselnya Tiara tidak lagi aktif.
Bilang cinta saja belum tetapi aku lebih banyak kepikiran sama Tiara, seandainya aku ditakdirkan menjadi miliknya maka dia tidak akan pernah aku sakiti atau melukai.
“Tiara…dimana dikau sekarang berada” lirihku.
Aku beranjak dari kasur untuk membuka pintu yang digedor.
“Bangun, sudah siang” ternyata Feri sedang memasang mukanya didepan pintu.
“Ini sudah bangun”
“Bangun sih, bangun tapi coba lihat sudah siang tu, semalam kamu tidur jam berapa?”
“Setengah dua pagi” jawabku setengah jengkel.
Setelah segalanya siap, aku langsung berangkat ke kampus lewat gang sempit dan berniat berjumpa dengan Tiara. Setiap kaki melangkah sesekali hatiku berucap, semoga ppagi ini aku bertemu dengan Tiara. Asa untuk bertemu dengannya tak kesampaian, rumahnya sepi, jendela dan pintunya tertutup rapat seperti kemarin. Mungkin Tiara keluar kota, bisik hatiku.
Aku singgah disebuah warung yang tidak jauh dari Rmah Tiara untuk membeli rokok. Sebenarnya hati meminta bibirku bertanya kepada pemilik warung tentang keberadaan Tiara yang sudah beberapa hari tidak terlihat, tapi aku mengurungkannya sehingga bibirku terdiam membisu.
***
Tanpa terasa sudah lima hari aku tidak bertemu dengan Tiara, jiwaku sudah terperangkap dalam bayangannya dan aku mulai bertanya dalam hatiku sendiri, kekuatan apa yang dimiliki Tiara sehingga berhasil merobohkan niatku untuk menjomblo sampai wisuda nanti.
“Tiara, belum datang?” tanya Feri.
“Belum! Apa dia sudah pindah ya?” aku balik Tanya.
“Tanya saja pada tetangganya” mang Udin menyambung.
“Cerdas, secepatnya” timpal Feri yang langsung diacungi jempol oleh mang Udin.
“Ya sudah, aku jualan dulu” kemudian mang Udin pergi dengan gerobak buburnya setelah kami membayarnya.
 Sekarang hari minggu, waktunya istirahat dan nanti sore Jogging lewat depan rumah Tiara sekalian bertanya pada tetangganya nanti sore. Seperti hari minggu sebelumnya hari ini aku akan nonton Film yang Feri sewa kemarin dirental depan. Ternyata film-film yang aku tonton tidak bisa menghilangkan kesabaranku untuk menunggu sore tiba.
Sore yang ditunggu telah tiba, Feri ikut menemaniku untuk olahraga murah ini dan sesekali terlibat omongan kecil bersama Feri.
“Boy, coba kamu lihat! Sepertinya itu Tiara”
“Yang mana Fer?”
“Itu yang turun dari mobil” Feri menunjukan arahnya.
“Iya, itu Tiara, mungkin dengan Ayahnya?” kemudian aku mencoba mendekatinya tapi dia kembali melaju dengan becak yang sudah menunggu didekatnya. Aku dan Feri mengikutinya dari belakang dengan raut wajah gembira merona.
Sampai depan rumahnya dia turun dari becak dibantu oleh ayahnya. Seperti ada bisikkan pada ditelinganya, dia menoleh kearahku. Aku melambaikan tanganku dia membalas dengan tersenyum kemudian aku meletakkan jariku membentuk telpon di pipi, dia mengangguk setuju. Sontak saja aku semakin gembira dan hamper saja mataku melewati wajahnya yang pucat pasi, seperti orang yang sedang sakit.
Malam harinya aku menghubungi Tiara, kami terlibat pembicaraan yang terasa akrab dan memberi tahuku kalau dia sedng sakit terbukti setiap pembicaraannya selalu  dibuntuti batuk, hanya saja dia tidak menjelaskan sakit yang dideritanya. Karena kondisi Tiara yang baru sembuh aku tidak berlama-lama bicara dengannya dan besok kami sepakat janjian bertemu disebuah warung sederhana dekat rumahnya.
***
Bapak Dr. Harfan Handoyo, begitu bersemangat menerangkan materi kuliah hokum perdata, hingga waktunya lewat tujuh menit. Mahasiswa lain  termasuk aku yang duduk dibelakangmulai tidak konsentrasi lagi. Dengan perasaan sebel aku ber-ehem berkali-kali, menantianku berakhir dosenku mnydahi materi siang itu. Setelah mengucapkan salam aku segera keluar dan dan pulang karena ada janji dengan Tiara siang ini.
Sedikit tergesa-gesa kupacu langkahku agar tidak terlambat. Asa tinggallah asa, akhrinya aku terlambat lima menit.
“Pak, tadi ada Tiara kesini?” tanyaku pada penjaga warung setelah aku menunggu hamper 30 menit.
“Tiara, yang rumahnya itu?” bapak itu balik Tanya sambil menunjuj rumah berwarna hijau.
“Iya” jawabku sambil dipenuhi rasa penasaran.
“Dia dibawa kerumah sakit lagi karena penyakitnya kambuh lagi. Kemarin dian pulang ternyata tadi pagi jam delapan dia bawa lagi ke dokter”
Aku setengah mati mendengar penjelasan bapak penjaga warung tersebut, kemudian aku pamitan setelah bapak itu memberitahu tempat Tiara di rawat yaitu antara RSUD dan RS Harapan Kita karena bapak tersebut tidak tahu persisi karena mendadak.
Aku segera mengambil motor ditempat kos dan segera menuju rumah sakit, rumah sakit pertama Harapan Kita yang aku kunjungi pertama karena lokasinya lebih dekat. Usahaku nihil tidak ada nama pasien bernama Tiara Wulandari yang masuk hari ini. Memperoleh informasi tersebut aku alngsung meluncur ke RSUD dan ternyata nama Tiara Wulandari terdaftar pada pasien hari ini.
“Tapi pasien ini sudah dirujuk ke Jakarta setengah jam yang lalu” kata perawat ramah.
“Sakit apa dia sus?” tanyaku sambil menahan rasa kecewa dan mencemaskan kondisinya.
“Kanker darah” jawab suster singkat.
Mendengar penyakit yang diderita Tiara tersebut aku tidak percaya, mungkinkah gadis secantik dan ramah seperti dia harus menderita penyakit mematikan itu. Tiara, semoga kamu cepat sembuh dan kita bisa bertemu diwarung yang sudah kita janjikan bersama. Langkahku sangat berat sekali, pikiranku juga terasa terbebani ribuan ton, aku baru saja ditinggalkan oleh malaikatku. 
Selasa, 12 Oktober 2010 | By: Rahman Raden

Diam Diam Menyukai Dangdut

Mati suri itulah kalimat pertama yang terdengar jika kita mendengar tentang musik dangdut. entahlah mengapa musik dangdut saat ini tidak lagi eksis di kancah hiburan tanah air. Banyak musisi dangdut yang memilih mempromosikan karya-karyanya lewat radio atau promo-promo of air. Apakah benar produser acara musik di TV tidak mau ambil resiko jika harus menampilkan acara-acara musik karena selera musik kita sedang beralih kemusik melayu milik anak band? Saat ini hanya TPI sebagai satu-satunya stasiun TV yang fokus acaranya bertemakan dangdut.

Tapi bicara soal dangdut diam-diam masyarakat indonesia tidak bisa lepas dari aliran musik yang identik dengan goyangannya ini, karena notabene kita  ras melayu maka musiknya harus yang bertemakan metal alias melayu total. Berikut adalah sedikit fakta musik dangdut masih digemari masyarakat

  1. Bicara soal dangdut kita tidak boleh melepaskan sang raja dan ratu dangdut yaitu Rhoma Irama dan Elvie Sukaesih karena kedua musisi ini adalah tokoh sentral dalam jagad musik dangdut tanah air. Banyak hits lawasnya tetap mengudara disejumlah daerah di Indonesia. Ada pula pesohor dangdut lainya yaitu Rita Sugiarto, Mansur S, mendiang Meggy Z dan lainnya.
  2. Setelah musik dangdut berada di ujung tanduk tiba-tiba muncullah fil Mendadak Dangdut tahun 2005 yang Soundtracknya di nyanyika oleh Titi Kama. Tak pelak lagu dangdut dalam soundtrack film itu yang berjudul Jablay (jarang dibelai) begitu fenomenal saat itu dan sejumlah Award dari berbagai anugerah musik untuk kategori musik dangdut di raihnya serta mengantarkan Titi Kamal ke puncak popularitas sebagai penyanyi. Itulah dangdut dan itulah musik yang tidak bisa dilepaskan dari industri perfilman.
  3. Ibarat sebuah kerajaan, dangdut memiliki seorang raja. Suatu saat jika sang raja sudah tidak eksis karena berbagai faktor maka sang pengeran harus menggantikannya. Saat ini sang pengeran telah go publik dia adalah Ridho Rhoma dan Sonet 2 Band. Berkatkualitas musik yang sangat memadai serta bermodalkan tampang yang menjual menjadikan musik dangdut versi sang pengeran sukses di blantika musik indonesia. Hits pertama yang diluncurkan adalah "Menunggu" lagu lawas milik sang raja dangdut diterima oleh pasar. Jadi jangan heran bila  ibu-ibu dan ABG putri pun terhipnotis oleh kemunculan sang pengeran dijagad dangdut terutama saat manggung.
  4. Saat ini yang paling fres seputar obrolan musik dangdut adalah fenomena dari Youtube yaitu "Keong Racun Sinta dan Jojo". Berkat aksi iseng dua mojang cantik dari bandung yang merekam aksi vedeo lips sincnya di Youtube membuat keduanya tenar karena lagu dangdut Keong Racun. Saat ini vedeo lagu dangdut versi Sinta dan Jojo tersebut sudah menembus angka 5.000.000 juta lebih pemirsa di Youtube itu sebuah angka fantastik. Berkat Sinta dan Jojo orang yang selama ini menyepelehkan dangdut semua terpatahkan terbukti fenomena Keong Racun membenarkan bahwa orang indonesia tidak mungkin lepas dari musik dangdut. Fenomena Keong Racun adalah media promosi termurah apalagi sampai keseluruh dunia. Keong racun pernah menduduki puncak tertinggi sebagai Tranding Topic di Twitter yang berlevel sejagad.
Itulah secuil fakta tentang musik dangdut kita, masih banyak fenomena yang mewarnai musik dangdut. Masih banyak fenomena lainnya seperti Inul Daratista dengan goyang ngebornya dan sederet artis dangdut lainnya yang memeiliki istilah masing-masing untuk goyangannya. Ada goyang gergaji, patah-patah, ngecor, khayang dan sebagainya, belum lagi hits Bang Toyib, Cinta Satu Malam milik Melinda dan sebagainya. Terlepas dari itu semua para musisi dangdut harus tetap produktif dalam berkarya hingga menghasilkan musik dangdut yang berkwalitas karena jika tetap mati suri seperti sekarang maka hal terburukpun bisa terjadi yaitu musik dangdut akan hilang dari muka bumi.
Satu lagi apakah anda pernah mengikuti atau menikmati salah satu fenomena di atas? Jika jawabannya iya maka diam-diam anda menyukai musik dangdut
Sabtu, 09 Oktober 2010 | By: Rahman Raden

Festival Kapuas 2010 dan Pontianak 239 th Universary

Untuk pertama kalinya Kapuas Festival di gelar dalam menyambut hari jadi kota Pontianak yang ke 239 tahun. sejumlah agenda telah di persiapkan oleh Weebee Production selaku event management yang menjadi pelaksana. Acara yang dikemas dengan tema "Amazing Experiences of Kapuas River" tentu untuk memaksimalkan potensi sungai Kapus yang berada di tengah kota terutama di dunia pariwisata sedangkan acara tersebut akan di helat di Alun-alun Kapuas jalan rahadi Usman yang langsung berada di tepian sungai Kapuas kota Pontianak.
 
Amazing Experiences Of Kapuas River ini , Weebee Production , Peprov Kalimantan Barat dan Pemerintahan Kota Pontianak menampilkan 2 event utama untuk mensukseskan acara ini yaitu
1. FESTIVAL KAPUAS - West Kalimantan Art & Culture Heritage
2. PONTIANAK 239th ANNIVERSARY

Berikut adalah daftar sejumlah agenda yang akan di helat dalam perayaan hari jadi kota Pontianak yang ke 239 tahun.

PONTIANAK 239th ANNIVERSARY
1 - 23 Oktober 2010

Pemilihan Bujang Dare Pontianak
1 – 3 Oktober 2010
Pentas Pelajar Pontianak
4 – 6 Oktober 2010
Lintas Kapuas – Swim River Competition
9 Oktober 2010
Pontianak International Kite Festival
15 – 17 Oktober 2010


KAPUAS FESTIVAL West Kalimantan Art & Culture Heritage.
24 – 31 Oktober 2010

Gelar Seni dan Budaya Kalimantan Barat
24 – 30 Oktober 2010
Pameran West Kalimantan Art & Culture Heritage
24 – 30 Oktober 2010
Pntianak International Dragon Boat Competition
24 – 30 Oktober 2010
Pemilihan Putra Putri Kalimantan Barat
31 Oktober 2010
Gelar 1000 penari Jepin ( MURI AWARD )
31 Oktober 2010
Jumat, 08 Oktober 2010 | By: Rahman Raden

Sensasi Ngopi Di Jalan Gajah Mada Kota Pontianak*

Anda sebagai orang Pontianak pasti sudah tahu dengan kawasan super sibuk ini yaitu jalan Gajah Mada. Bukan karena pasar Flamboyan yang menawarkan barang-barang serba murah tetapi sisi lain dari itu. Bicara soal kuliner tentu bukan barang langka di jalan Gajah Mada barbagai macam restaurant, cafe dan warung menawarkan makanan yang memanjakan lidah. Mulai makanan serba mahal dari restaurant mewah hingga yang ekonomis yang disediakan sejumlah rumah makan. Saya bukanlah pakar kuliner seperti Bapak Bondan Winarno yang ada di acara wisata kuliner Trans Tv. Saya hanyalah penikmat setia kopi dan tentu kopi tetaplah kopi si hitam manis yang menggoda terutama di pagi dan malam hari. Di jalan Gajah Mada kota Pontianak ada banyak warung kopi yang bertebaran disepanjang jalan. Jika siang hari jalan Gajah Mada menjadi tempat berputarnya roda perekonomian kota Pontianak maka dimalam hari akan menjadi salah satu sentra dalam ajang berkumpul bersama orang-orang terdekat lewat secangkir kopi yang nikmat dan hanya ada di jalan Gajah Mada Pontianak.


Ratusan bahkan ribuan jika di akhir pekan masyarakat secara ramai-ramai datang kejalan Gajah Mada untuk menikmati secangkir kopi. Apalagi cace-cafe yang meyediakan proyektor untuk tv kabel untuk menyiarkan laga sepak bola club Eropa serta fasilitas wi fi tentu akan menjadi tempat favorit pengunjung hingga dini hari dan bersiap-siaplah anda tidak kebagian tempat duduk dan tempat parkir. Walaupun kota Pontianak sudah banyak memiliki tempat hiburan umum tetapi jalan Gajah Mada tetap mempunyai penggemar dan harus masuk daftar kunjungan anda jika ke kota Khatulistiwa ini karena tempat ini disukai dari berbagai kalangan mulai dari yang muda hingga yang sudah tua, rakyat kecil hingga pejabat terutama jika di akhir pekan seperti malam minggu. Buat anda yang tidak suka dengan kopi sebaiknya jangan mengurungkan niatnya untuk ke jalan Gajah Mada, panggilah pelayan rumah makan atau cafe dan pesanlah minuman favorit anda karena di jalan Gajah Mada tidak hanya menawarkan minuman kopi tetapi banyak lagi minuman lainnya seperti minuman khas kota Pontianak yang terbuat dari lidah buaya. Jika anda lapar pesanlah makanan yang ada di daftar menu dan jangan lewatkan untuk mencoba sensasi kuliner khas Pontianak seperti He Keng, Juhi Bakar dan lain sebagainya. Jika anda diluar kota Pontianak segeralah hubungi agen travel kepercayaan anda dan segera nikmati wisata ala kota Pontianak seperti jalan Gajah Mada serta kelokasi favorit lainnya yaitu alun-alun Kapuas, Istana Kadriyah, Tugu Khatulistiwa bahkan kota Pontianak juga menawarkan wisata religi islam juga loh. Selamat Datang di kota Pontianak.
Oleh: Rahman Raden

5 Foto Foto Terbaik Dunia

1. Afghan Girl (1984)

Gambar ini diambil oleh Potograper National Geographic Steve McCurry.
Gadis di poto ini adalah Sharbat Gula salah satu murid di sekolah pusat penampungan pengungsi Afghanistan.
Yang jadiin poto ini terkenal adalah karena jarang ada kesempatan untuk mengabadikan profil wajah wanita Afghan.
Sharbat Gula diperkirakan 12 tahun pada saat gambar ini diambil.
Photographer : Steve McCurry, Source: nationalgeographic.com




2. Stricken Child Crowling Towards a Food Camp (1994)

Poto ini berhasil mendapat penghargaaan Pulitzer.
Poto ini diambil pada tahun 1994, pada saat bencana kelaparan di Sudan. Yang menggambarkan seorang anak merangkak menuju sebuah kamp Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang terletak beberapa kilometer.
Dan juga seekor burung bangkai yang sedang menunggu anak itu mati untuk dimakan.
Poto ini membuat terkejut seluruh dunia.
Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang terjadi pada anak itu, termasuk si potograper Kevin Carter yang meninggalkan tempat segera setelah foto diambil.

Tiga bulan kemudian Kevin Carter melakukan bunuh diri karena depresi.
Photographer : Kevin Carter




3. The Power of One (2007)

Poto ini berhasil meraih Pulitzer Breaking News Photography 2007.
Testimoni buat poto ini :
"Awarded to Oded Balilty of The Associated Press for his powerful photograph of a lone Jewish woman defying Israeli security forces as they remove illegal settlers in the West Bank".
Photographer : Oded Balilty (Associated Press)
 


4. Segregated Water Fountains (1950)

Poto yang menggambarkan pemisahan keran air minum bagi warga kulit putih dan kulit berwarna di North Carolina, USA.
Photographer : Elliott Erwitt



5. The Plight of Kosovo Refugees (1999)




Poto ini masuk nominasi penghargaan Pulitzer.
Poto ini menceritakan bagaiman pengungsi kosovo memindahkan Agim Shala seorang bocah berusia 2 tahun melewati pagar berduri.
Photographer : Carol Guzy Source (washingtonpost.com)


Oleh: Rahman Raden El Egypt
sumber artikel: http://gambargambarunik.blogspot.com
 
Jumat, 01 Oktober 2010 | By: Rahman Raden

Wisata: Tugu Khatulistiwa Pontianak


Tugu Khatulistiwa terletak di sisi jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara. Setiap tanggal 21 -23 Maret dan 21-23 September setiap tahun diperingati hari kulminasi matahari di tempat ini, yakni matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa sehingga bayangan benda di tempat ini hilang.

Di kompleks Tugu Khatulistiwa sering pula diadakan agenda wisata khusus, seperti pertunjukan kesenian, pameran dan sebagainya.

Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en. W oleh Opzihter Wiesedikutip dari Bijdragentot de geographie dari Chep Van den topographieschen dient in Nederlandsch Indie: Den 31 Sten Maart 1928, telah datang di Pontianak suatu ekspedisi internasional yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di Pontianak.

Konstruksi awal Tugu Khatulistiwa yang pertama dibangun tahun 1928, hanya berbentuk tonggak dengan tanda panah. Tahun 1930 disempurnakan berbentuk tonggak dengan lingkaran dan tanda panah. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh arsitek Silaban. Pada tahun 1990 kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran 5 kali lebih besar dari tugu yang asli. Tugu ini diresmikan pada tanggal 21 September 1991.

Bangunan tugu terdiri dari empat buah tonggak belian, masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter.Diameter lingkaran yang bertulisan EVENAAR 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter. Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109 o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur.
Selasa, 24 Agustus 2010 | By: Rahman Raden

Halalnya Binatang Buruan*



Dalam Alquran Allah SWT dan Rasul-Nya telah memetapkan segala macam binatang yang halal untuk diburu, kecuali hewan yang diharamkan dalam syariat islam sepeti babi, anjing, binatang buas yang bertaring dan sebagainya. Binatang ternak maupun segala macam binatang liar yang halal boleh diburu dan dimakan oleh kaum muslim.

Binatang-binatang liar yang hidup liar atau bukan hewan ternak oleh kaum muslim dapat ditangkap melalui jalan berburu dan Allah SWT menghalalkan hewan buruan tersebut untuk dimakan.



Allah SWT berfirman:
"Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang kamu ajari dengan melatihnya untuk berburu"
(Q.S. 5 Al-Maidah: 4)

"Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu..."
(Q.S. 5 Al-Maidah: 96)

Rasulullah SAW Bersabda:

"Apabila engkau melontarkan panahmu, hendaklah engkau menyebut nama Allah, kemudian jika engkau mendapati binatang itu mati (Oleh panahmu) maka makanlah binatang itu.
(H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari ayat Al-Quran dan Hadist tersebut maka jelaslah kehalalan binatang-binatang buruan, baik binatang darat ataupun binatang laut.

*Oleh: Rahman Raden Elegypt
Jumat, 20 Agustus 2010 | By: Rahman Raden

.12 Tahun Yang Lalu Dan Sekarang

Benar-benar terasa beda, dulu waktu aku masih SD dengan sekarang. Global Warming dan Modernisasi Global yang mengubah itu semua.
Kalau Dulu:
1. Menyimpan Gelas Kosong di Ruang Terbuka pada malam hari maka pagi harinya gelas tersebut akan berisi air embun hingga meluap.
2. Depan rumahku ada sebuah kali, kali tersebut bermuara di sungai kapuas kondisi airnya bersih, dalam bahkan terkadang jika air pasang, rasa asin bisa terasa karena sungai kapuas yang membawanya dari selat karimata.
3. Aku diwaktu kecil bermain langsung berinteraksi dengan alam, bermain diantara ilalang yang hijau setinggi orang dewasa bahkan aku dan teman-teman tanpa rasa takut bermain di area ilalang yang tinggi dan lebat. Tidak Berlaku rasa takut jika lelah bermain diantara ilalang aku dkk bermain petak umpet diantara rindangnya pepohonan dan bisa menyantap buahnya.
4. Jika siang hari setelah sholat dhuhur, burung gereja menemani dengan nyanyian-nyanyian indahnya.
5. Sore Hari burung elang terbang secara bebas di angkasa, berputar-putar dengan suaranya yang menakutkan bagi anak-anak ayam yang bermain di antara padang rumput.

Tapi Sekaran:
1. Menyimpan gelas kosong diruangan terbuka pada malam hari maka pagi harinya embun tidak lagi mengisinya dengan air walaupun ada itu sedikit dan sudah tercampur dengan polusi Bus Malam yang lewat.
2. Kali depan rumahku sudah tidak seperti dulu. sekarang kondisinya semakin kecil karena pembangunan jalan raya yang semakin lebar. Air pasang yang dikirimi oleh sungai kapuas tidak maksimal lagi. Sedikit tersumbat dengan jembatan yang menghubungkan kerumah warga yang semakin padat.
3. Sekarang anak-anak sudah tidak lagi bermain dengan alam, anak-anak kecil itu sudah modern mereka bermain dengan teknologi dari negeri Barat dan Asia Timur.
4. Tidak ada lagi burung gereja karena habitatnya sudah menjadi Kopmplek Perumahan kaum Urban.
5. LAMA Sekali tidak melihat Burung elang terbang di angkasa di sore hari.

Begitulah SEDIKIT perbedaan 12 tahun yang lalu dengan sekarang, apakah anda juga mengalami seperti yang aku alami di lingkungan anda?

* Rahman Raden El Egypt

Lebih Kenal Dengan Mutafa Kemal Ataturk: Tokoh Sekuler Republik Turki

Mustafa Kemal Atatürk (lahir di Selânik (sekarang Thessaloniki), 12 Maret 1881 – meninggal di Istana Dolmabahçe, Istanbul, Turki, 10 November 1938 pada umur 57 tahun), hingga 1934 namanya adalah Ghazi Mustafa Kemal Pasha, adalah seorang perwira militer dan negarawan Turki yang memimpin revolusi negara itu. Ia juga merupakan pendiri dan presiden pertama Republik Turki.

Mustafa Kemal membuktikan dirinya sebagai komandan militer yang sukses sementara berdinas sebagai komandan divisi dalam Pertempuran Gallipoli. Setelah kekalahan Kekaisaran Ottoman di tangan tentara Sekutu, dan rencana-rencana berikutnya untuk memecah negara itu, Mustafa Kemal memimpin gerakan nasional Turki dalam apa yang kemudian menjadi Perang Kemerdekaan Turki. Kampanye militernya yang sukses menghasilkan kemerdekaan negara ini dan terbentuknya Republik Turki. Sebagai presiden pertama negara ini, Mustafa Kemal memperkenalkan serangkaian pembaruan yang luas yang berusaha menciptakan sebuah negara modern yang sekuler dan demokratis. Menurut Hukum Nama Keluarga, Majelis Agung Turki memberikan kepada Mustafa Kemal nama "Atatürk" (yang berarti "Bapak Bangsa Turki") pada 24 November 1934.


KETIKA MASIH MUDA
Mustafa dilahirkan pada 1881, di Selânik Ottoman (kini Thessaloniki di Yunani), sebagai anak seorang pegawai kecil yang kemudian menjadi pedagang kayu. Sesuai dengan kebiasaan Turki pada waktu itu, ia dinamai Mustafa saja. Ayahnya, Ali Rıza Efendi, seorang pegawai bea cukai, meninggal dunia ketika Mustafa baru berusia tujuh tahun. Karena itu, Mustafa kemudian dibesarkan oleh ibunya, Zübeyde Hanım.

Ketika Atatürk berusia 12 tahun, ia masuk ke sekolah militer di Selânik dan Manastır (kini Bitola), kedua-duanya pusat nasionalisme Yunani yang anti-Turki. Mustafa belajar di sekolah menengah militer di Selânik, dan di sana namanya ditambahkan dengan nama Kemal ("kesempurnaan") oleh guru matematikanya sebagai pengakuan atas kecerdasan akademiknya. Mustafa Kemal masuk ke akademi militer di Manastır pada 1895. Ia lulus dengan pangkat letnan pada 1905 dan ditempatkan di Damaskus. Di Damaskus ia segera bergabung dengan sebuah kelompok rahasia kecil yang terdiri dari perwira-perwira yang menginginkan pembaruan, yang dinamai Vatan ve Hürriyet (Tanah Air dan Kemerdekaan), dan menjadi penentang aktif rezim Ottoman. Pada 1907 ia ditempatkan di Selânik dan bergabung dengan Komite Kesatuan dan Kemajuan yang biasa disebut sebagai kelompok Turki Muda.

Pada 1908 kaum Turki Muda merebut kekuasaan dari Sultan Abdul Hamid II, dan Mustafa Kemal menjadi tokoh militer senior. Pada 1911, ia pergi ke provinsi Libya untuk ikut serta dalam melawan invasi Italia. Pada bagian pertama dari Perang Balkan Mustafa Kemal terdampar di Libya dan tidak dapat ikut serta, tetapi pada Juli 1913 ia kembali ke Istanbul dan diangkat menjadi komandan pertahanan Ottoman di wilayah Çanakkale di pantai Trakya (Thrace). Pada 1914 ia diangkat menjadi atase militer di Sofia, sebagian sebagai siasat untuk menyingkirkannya dari ibu kota dan dari intrik politiknya.


Pembaruan kebudayaan
Atatürk memperkenalkan abjad Turki yang baru kepada rakyat Kayseri (20 September 1928).

Mustafa Kemal menganggap fez (dalam bahasa Turki "fes" (topi Turki), yang mulanya diperkenalkan Sultan Mahmud II sebagai aturan berpakaian di Kekaisaran Ottoman pada 1826) sebagai lambang feodalisme dan karena sebab itu ia melarang pemakaiannya di muka umum. Ia mendorong lelaki Turki untuk mengenakan pakaian orang Eropa. Meskipun Islam melarang keras minuman yang mengandung alkohol, ia menggalakkan produksi dalam negeri dan mendirikan industri minuman keras milik negara. Ia menyukai minuman keras nasional, rakı, dan banyak sekali meminumnya.

Budaya dan kesenian

Atatürk pernah mengatakan: "Kebudayaan adalah dasar dari Republik Turki." Pandangannya tentang kebudayaan termasuk warisan kreatif bangsanya sendiri dan apa yang dipandangnya sebagai nilai-nilai yang mengagumkan dari peradaban dunia. Terutama sekali ia menekankan humanisme. Ia pernah menggambarkan tekanan ideologis Turki modern sebagai "suatu kreasi patriotisme dicampur dengan gagasan humanis yang luhur."

Untuk membantu pencampuran sintesis seperti itu, Atatürk menekankan perlunya memanfaatkan unsur-unsur warisan nasional bangsa Turki dan bangsa Anatolia (termasuk budaya-budaya pribuminya yang kuno) serta kesenian dan teknik dari peradaban-peradaban dunia lainnya, baik di masa lalu maupun sekarang. Ia menekankan perlunya mempelajari peradaban-peradaban Anatolia kuno, seperti bangsa Het, Frigia, dan Lidia. Kebudayaan Turki pra-Islam menjadi pokok penelitian yang luas, dan tekanan khusus diberikan kepada kenyataan bahwa -- jauh sebelum peradaban Seljuk dan Ottoman -- bangsa Turki telah memiliki kebudayaan yang kaya. Atatürk juga menekankan kesenian rakyat di pedesaan sebagai mata air kreativitas Turki.

Kesenian visual dan plastik -- yang perkembangannya sekali-sekali ditahan oleh sebagian pejabat Ottoman dengan anggapan bahwa penggambaran wujud manusia adalah bentuk penyembahan berhala -- berkembang di bawah masa kepresidenan Atatürk. Banyak museum yang dibuka; arsitektur mulai mengikuti arus yang lebih modern; dan musik, opera, dan balet klasik barat, serta teater, juga mengalami kemajuan besar. Ratusan "Wisma Rakyat" dan "Ruang Rakyat" di seluruh negeri memungkinkan akses yang lebih luas terhadap berbagai kegiatan kesenian, olah raga dan acara-acara kebudayaan lainnya. Penerbitan buku dan majalah juga meningkat pesat, dan industri film mulai berkembang.

Mustafa Kemal memiliki visi sekuler dan nasionalistik dalam programnya membangun Turki kembali. Ia dengan keras menentang ekspresi kebudayaan Islam yang asli terdapat di kalangan rakyat Turki. Penggunaan huruf Arab dilarang dan negara dipaksa untuk beralih ke abjad yang berbasis Latin yang baru. Pakaian tradisional Islam, yang merupakan pakaian kebudayaan rakyat Turki selama ratusan tahun, dilarang hukum dan aturan berpakaian yang meniru pakaian barat diberlakukan.
Kamis, 19 Agustus 2010 | By: Rahman Raden

Penghuni Pasar Hawa *

CERPEN: Malam itu dari sebuah radio butut sayup-sayup lagu dangdut menyelusup ketelinga, menjadi ciri khas kawasan pasar malam tersebut, makin malam, pasar tesebut makin ramai dikunjungi oleh pembeli. Kalau dilihat sebenarnya tidak layak disebut pasar karena disana hanya terdapat orang berjualan makan dan minuman ringan, bisa juga disebut warung kopi. Puluhan kios atau warung berdiri disitu, orang-orang menyebutnya sebagai Pasar Hawa atau lebih pasar remang, remang dari kehidupan nyata. Pasar hawa tersebut hanya beroperasi pada malam hari, disebut pasar hawa karena disana menjadi tempat para wanita tuna susila mangkal dipasar tersebut. Tidak jauh dari pasar hawa tersebut berdiri sejumlah losmen kecil. Termpat penginapan itu selalu ramai pada jam delapan malam keatas oleh para lelaki hidung belang yang kebelet kencing. Diantara puluhan wanita penjaja cinta dipasar tersebut, terdapat seorang wanita dari wilayah terpencil di Kalimantan, wanita itu bernama Sulastri. Selama menjadi wanita tuna susila Sulastri merubah namanya menjadi Ima. Seperti wanita penjaja lainnya dia terjun kekubangan dosa itu karena himpitan ekonomi, sebuah alasan klasik Ima mengatakan pada keluarganya bekerja sebagai karyawan swasta di Jawa. “Aku tahu pekerjaan ini dosa, tetapi aku yakin tuhan masih sayang padaku” “Mengapa kamu berkeyakinan seperti itu?” “Kamu tahu kasih sayang ibu pada anaknya, suami pada istrinya, nenek terhadap cucunya? Itu hanya setetes yang diberikan tuhan pada mereka dan tuhan memiliki banyak lautan kasih sayang. Tuhan tidak pernah tidur untuk saya” “Ima, manusia sudah….” pembicaraan Haris langsung dipotong oleh Ima. “Sudahlah, kamu kesini hanya ingin bermalam denganku bukan untuk berdebat” “Iya, kamu benar” “Ya sudah, jangan lama-lama” lanjut Ima sambil melepaskan satu per satu pakaiannya dan merebahkan diri diatas ranjang. Haris pun segera mengunci pintu kamar, padamkan lampu dan menikmati wanita tersebut. *** Ima terbangun dari tidurnya, mendapati Haris, pria yang berkencan dengannya sudah tidak ada, yang tertinggal hanyalah beberapa lembar uang dan secarik kertas. Pria kencannya hilang ketika pagi datang dan uang diatas meja baginya sudah biasa tetapi untuk selembar surat belum pernah dia dapati selama hampir tiga tahun menjadi pelacur. Ima membaca surat tersebut. Sudah hampir setahun aku mengenalmu dan selama itu pula aku sering berkencan denganmu. Aku tidak mau kamu selalu terluka oleh pria hidung belang lain. Aku juga pria hidung belang tetapi hanya untuk kamu bukan untuk wanita lain diluar sana. Aku sudah cukup kenal lama denganmu, aku tidak ingin kita terus berkubang dalam dosa. Aku ingin membawamu dalam kehidupan yang lebih baik dan terhormaat dimata tuhan. Jadilah wanita yang sah dan halal untukku agar tuhan mengampuni dosa-dosa kita. Tertanda: Haris. Sebuah butiran bening jatuh dari pipinya dan mengaburkan salah satu bacaan yang ada dikertas itu, tangisan yang dibuat oleh pria hidung belang untuk seorang kupu-kupu malam yang sudah lama terpendam oleh kerasnya kehidupan malam. *** Sepiring mi goreng disajikan oleh Ima untuk pria Costumer-nya itu “Coba makan masakan sederhanku ini, enak nggak? ”Enak, kamu jago masak” kata Haris yang sore itu datang kerumah kontrakan Ima. “Enak seperti apa?” Ima kembali bertanya. “Mm… pedas, sepedas orangnya. Hot” ujar Haris. Ima tertawa renyah setelah mendengar komentar pria didepannya itu. “Kamu sudah baca suratku kemarin pagi?” Haris mengorek keterang dari Ima. “Kamu tidak dalam keadaan mabuk ketika menulis surat itukan?” “Aku sadar dan serius menulis surat itu” “Kamu pernah bilang padaku, ketika istrimu meninggal kamu masih mencintainya” “Aku mencintai almarhum istriku dan aku sekarang mencintaimu juga” “Jika kamu masih mencintai istrimu urungkan niatmu. Kakeku pernah bilang, jika seorang suami ditinggal mati oleh istrinya, maka kelak mereka akan berkumpul lagi diakhirat tetapi jika suami tersebut menikah lagi maka suami tersebut akan berkumpul dengan istri keduanya bukan dengan istri pertamanya” jelas Ima pada Haris. “Itu hanya akal-akalan kakekmu saja. Niatku tulus ingin membawamu dari duniamu selama ini” “Mas Har, masih banyak wanita diluar sana yang lebih suci dan cantik dari aku” “Itu hak paten, Aku tetap mencintaimu sampai kapanpun” “Kamu bisa mencintaiku tetapi apakah orangtuamu bisa menerima dan mencintaiku sebagai seorang menantu? Sudahlah mas, aku bosan dengan ucapanmu, biarkan saja aku seperti sekarang” kemudian Ima mengakhiri percakapannya dengan Haris.. Pelacur mana yang tidak mau jika ada seorang pria mengajaknya menikah. Sulastri atau Ima sudah lama menjadi kupu-kupu malam dipasar hawa. Ima sebenarnya ingin menerima pinangan Haris, wanita itu terpaksa berbohong dengan mengatakan tidak mau pada Haris. Ima juga mencintai Haris tetapi dia tidak ingin peristiwa kedua kalinya menimpa pada Haris. Dua tahun lalu seorang pria pernah mengajaknya menikah dan menjanjikan hidup yang lebih baik seperti Haris namun sang Mucikari membunuh pria tersebut karena jika Ima menikah maka pendapatan dari menjual wanita-wanita malam itu akan berkurang. Para pelacur termasuk Ima tidak boleh menikah selama kontraknya belum habis. Ima pernah mencoba melarikan diri tetapi usaha itu terkendala oleh sang mucikari mengancam akan membocorkan rasianya sebagai pelacur pada keluarganya. Sejak saat itulah Ima selalui dihantui rasa takut jika sang mucikarinya tahu Ima mencintai konsumennya. Wajar jika Ima menolak pinangan Haris karena Ima sayang dan cinta pada Haris. Kalau sang mucikarinya tahu Ima yang masih terikat kontrak ingin dinikahi Haris maka sang mucikari tidak segan-segan menbunuhnya. Itu belaku pada semua pelacur Pasar Hawa tanpa terkecuali. *** Dengan berat hati akhirnya Ima buka mulut soal keadaan sebenarnya yaitu masalah kesepakatan dengan mucikarinya. Mendengar cerita tersebut Haris menjadi berang pada mucikari pasar hawa. “Kalau kamu mencintaiku, kamu harus ikut aku. Kita bisa tinggal dikota lain” “Aku tidak ingin mencelakakn kamu mas Har, kita tunggu delapan bulan lagi setalah itu aku akan terima pinangan mas Har, jika aku menerima sekarang semuanya pasti kacau” terang Ima. “Jadi kamu yang ingin menikah dengan Ima, kamu harus berhadapan denganku” Tiba-tiba seorang pria tinggi besar datang dia adalah Barko sang mucikari pasar hawa. Terang saja Ima sangat terkejut dengan kedatangan Barko apalgi dia sudah mendengar kalua dia ingin dinikahi oleh Haris. “Kamu jangan ikut campur urusanku dengan Ima” “Haris, aku tidak menyangka, kalua kamu sudah macam-macam pada wanita-wanitaku, tindakanmu itu terus terang salah besar. Kamu akan celaka berhadapan denganku” “Persetan dengan kau, Barko” bentak Haris. Ima meminta Haris untuk cepat keluar dari rumah kontarkanya sebelum Barko mencelakainya namun Haris menolaknya. Barko tersenyum iblis setelah melihat tindakan Haris. “Barko, jangan celakai mas Haris kalau kamu tidak ingin kehilangan aku” pinta Ima “Biarkan saja, biar aku yang menghadapi Iblis ini” ujar Haris memanas. Ima tidak bisa berbuat banyak karena dua pria tersebut sudah terlibat perkelahian yang sengit. Haris terus berusaha menghantam wajah Barko dengan tinjuannya dan beberapa kali mengenai pipi mucikari itu. Sedangkan Barko terus menghajar haris hingga babak belur, Haris tersungkur kelantai dengan wajah memar dan berdarah, Barko yang wajahnya sudah lebam mengeluarkan sebilah pisau dan mencoba menusukkan pada Haris yang terkapar dilantai. Barko mengayunkan pisaunya kearah perut Haris. Cemprerrengng….sebuah guci besar pecah dihantamkan kekepala Barko oleh Ima. Kepala Barko mengucurkan darah dan jatuh kelantai dan Haris sempat menghajar kembali Barko hinga tidak sadarkan diri, Ia segara menyelamatkan Ima, dengan meninggalkan Barko yang sudah sekarat. Ima dibawa kabur oleh Haris jauh-jauh agar tidak terlacak oleh Barko dan anak buahnya. *** Siang itu Haris dan Sulastri baru saja pulang dari sebuah panti asuhan yatim piatu di kota Pangkalan Bun Kalimantan Tengah. Sejak terjadi perkelahian dengan dengan Barko stiga tahun lalu dirumah kontrakan Ima, keesokannya Haris membawa Sulastri ke Pangkalan Bun Kalteng. Setelah Ima resmi menjadi istri sahnya Haris mantan pelacur tersebut kembali memakai nama kecilnya yaitu Sulastri. Seorang anak tampan menjadi tanda buah cinta mereka berdua dalam sebuah rumah tangga sakinah. Kini mereka menjadi pengasuh sebuah yayasan panti asuhan yatim piatu. Pakaian seksi yang pernah melekat kini berubah menjadi pakaina muslimah dan kepalanya ditutupi dengan jilbab, selain sebagai pengasuh yayasan panti Haris juga menjadi seorang pengusaha kelapa sawit disejumlah perkebunan yang tersebar di Kalimantan. Diantar kesibukan sebagai pengasuh yayasan panti asuhan bersama suaminya Haris dan ibu rumah tangga, Sulastri juga disibukan sebagai aktivis perempuan yang berjuang untuk hak-hak kaumnya. Kisah-kisah kelam yang pernah menghiasi kehidupan Sulastri kini berganti dengan kisah-kisah teladan. Masa suram yang dijalani sebagai pelacur telah dikubur dalam-dalam dalam kehidupannya dengan menjadi istri Haris yang solehah dan ibu yang teladan untuk putranya serta anak-anak panti asuhan. *Oleh: Rahman Raden El Egypt

Mahya, Pesta Cahaya Ramadan di Langit Turki

Lampu-lampu menghiasi kota selama sebulan penuh membawa rangkaian pesan bermakna. 
Ratusan bola lampu menghiasi menara masjid tertua di Turki, Masjid Raya Sulaimaniah. Pendar-pendar cahayanya merangkai pesan-pesan Ramadan dan menerangi malam di Istanbul selama sebulan penuh.

Pesona itu merupakan bagian dari tradisi Mahya atau permainan lampu selama Ramadan. Tradisi yang populer di Turki dan seluruh wilayah Istambul itu ada sejak era kekaisaran Ottoman.

Lampu-lampu bergelantungan di antara menara. Cahayanya mengurai pesan kesalehan yang terbaca dari jarak jauh. Itu pesan untuk menghargai dan mengilhami umat melaksanakan puasa di siang hari. "Ramadan berlimpah pahala," begitu bunyi salah satu karya perancang Mahya, Kahraman Yildiz.

Yildiz, seniman yang menggeluti Mahya selama 40 tahun memiliki kepuasaan batin mengerjakan tugasnya. "Rasanya sangat senang melihat mahya tergantung di kota dan melihat orang-orang mendongak untuk menatapnya dan membaca pesan di dalamnya," katanya seperti dilansir Daily Star.

Untuk merangkai kalimat di 'angkasa', para pekerja harus bergelantungan di sepanjang balkon dan menara setinggi 76 meter. Mereka harus kembali bergelantungan untuk mengubah kalimat di sepanjang celah sempit dan ketinggian menara setiap minggunya.

Tradisi Mahya tercatat sebagai warisan budaya yang menandai Turki sebagai Kota Budaya Eropa. Ada sejak pemerintahan Sultan Ahmad I (1603-1617). Sang raja membuat Mahya sebagai kejutan bagi muazin atau orang yang memanggil orang di waktu salat. Setelahnya, Ahmad I memerintahkan untuk memasang Mahya di mesjid-mesjid di seluruh kekuasaannya.

Setelah kekaisaran Ottoman jatuh dan Turki berubah menjadi negara modern pada 1923, Mahya digunakan sebagai media nasionalisme pemerintah seperti ajakan membeli produk Turki atau program menabung.

Berusia 400 tahun, Mahya telah beralkulturasi dengan budaya modern. Mahya tak lagi fanatik menggunakan lampu tradisional dan bahasa Arab. Listrik dan bahasa latin sudah menjadi elemen utama Mahya di masa kini. (pet) • VIVAnews

FENOMENA LATAH ALBUM RELIGI DI INDUSTRI MUSIK INDONESIA

Ramadhan Hampir tiba, bagi sebagian orang ini adalah moment paling tepat untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, Namun berbeda dengan para pelaku industri musik Ramadhan merupakan lahan bisnis baru untuk mendulang rupiah lebih banyak lagi. Saat Ramadhan tiba kalangan selebriti terutama penyanyi banting setir menjadi Pendakwah Dadakan alias latah. Mereka membuat single atau album lagu Religi tema Ramadhan. Saat Konfrensi pers para penyanyi itu mengaku ingin belajar menjadi pribadi yang dekat dengan tuhannya. Padahal ini adalah peluang untuk show ketika Ramadhan dan aktifasi RBT. Demi mencuri perhatian mereka melalukan hal-hal yang positif. Mereka Mengekor kesuksesan Opick atau Haddad Alwi yang lebih dikenal sebagai musisi musik religi. Namun kita tetap menghargai mereka untuk berbuat baaik walaupun kesannya latah. Positif yang ditekuni mereka adalah sebuah poin penting bahwa mereka memiliki jiwa agamis dan mencintai Allah SWT untuk mengharap Ridho-Nya dan safaat Rasulullah SWT. Kita Bisa Belajr dari lirik lagu yang mereka tulis. Latah yang memberi Manfaat kepada Umat, kenapa tidak. LATAH Silahkan LATAH yang penting Positif. By Rahman Raden Elegypt