Kamis, 14 April 2011 | By: Rahman Raden

MDP (3 End) Dibesarkan Oleh Jawa Pos

Judul: Mandiri Dari Pesantren (Bag-3 Habis)
Episode: Di Besarkan Jawa Pos Group


Beberapa hari setelah baca buku Kahlil Gibran. saya masih saja dihantui rasa kejenuhan tiap kali membaca buku. Namun setelah beberapa bulan mengalami kejenuhan saya menemukan buku novel dari kisal fenomenal yaitu Laila Majnun. Membaca novel tersebut saya dibawa ke nuansa yang mengharu biru akan kisah percintan mereka. Melelah....

Namun tanpa saya sadari saya telah melakukan sebuah kegiatan yang berujung jatuh cinta pada sebuah media. Saya tidak menutup media tersebut, siapa lagi media kenamaan di pulau Jawa yaitu media cetak Jawa Pos. Jawa Pos tidak hanya menyajikan berbagai berita setiap hari tetapi media tersebut juga memiliki Grup media lain yaitu Tabloid Nyata.

Ada apa dengan tabloid Nyata. Begini, setiap kali saya membeli makan diwarung nasi terdekat di pesantren yang saya lakukan setiap kali adalah membaca bungkusan nai tersebut yang dibungkus dengan kertas dari tabloid Nyata yang bekas. Dari situ setelah saya makan nasi bungkus pasrti tidak lupa saya akan membaca kertas pembungkus nasi dari tabloid Nyata yang sudah bekas. bahkan teman saya di kamar jika membeli nasi pasti bungkusnya terkadang tidak di uang karena sudah tau saya akan membaca isi dari kertas bekas tersebut. Memang penjual nasi langganan saya tersebut pembungkus nasi dari luar adalah kertas bekas Tabloid Nyata.

Bukan berarti saya spesialis pembaca media bekas. Setiap kali pulang sekolah hal pertama yang saya lakukan adalah kedepan waserda milik pesantren untuk membaca koran. Koran tersebut adalah Jawa Pos. Saya tidak pernah absen membaca koran Jawa Pos setiap kali pulang sekolah, bahkan saya prnah masuk sebuah organisasi di pesantren dengan misi atai tujuan saya lebuh banyak lagi membaca koran. Karena organisasi tersebut langganan koran juga, tau koran apa? yaitu Jawa pos.

Mengapa saya beranggapan saya dibesarkan oleh Jawa Pos. Bicara soal kecintaan saya terhadap dunia membaca karena tidak telepas dari peran Jawa Pos dalam menyajikan berita yang menuntut saya trus mengupdate terus setiap harinya. walaupun pagi hari sebelum berangkat kesekolah saya menyempatkan diri untuk nonton berita dari teve dilingkungan pesantren tetapi mebaca koran Jawa Pos adalah sebuah keharusan dan kebutuhan.

Lambat laun setelah saya cinta mati pada Jawa Pos akhirnya saya mulai mneyukai dunia membaca, jadi karena terbiasa membaca akhirnya saya mulai tertarik kembali untuk membaca buku tebal dan itu saya lalukan hingga Pergutuan Tinggi, membaca koran Jawa Pos masih tetap berjalan, karena jika saya tidak mngenal Jawa Pos maka saya tidak akan kenal dunia membaca.

5 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

saya juga suka baca koran yg digunakan utk ungkus makanan. kalo pas beritanya menarik sih

Blog Keluarga - Obat Ibu Hamil mengatakan...

pernah juga mengalami hal serupa...

Rahman Raden mengatakan...

Cerpeni: maksud q juga gitu, em
Keluarga; wau iyakah

Gaphe mengatakan...

waah kalo soal Jawa Pos, saya baru taunya setelah saya pindah di surabaya. secara langganan koran hariannya jawa pos. kalo dulu di Jogja, pasti bacaannya kedaulatan rakyat.. tapi jarang banget kalo baca koran bekas bungkus makanan. hahah

Darwis Alwan El-Habsyi mengatakan...

gua banget lu man, koran adalah bacaan kesukaan ku, palagi jawa pos, selau ada yang baru!

Posting Komentar