Senin, 25 April 2011 | By: Rahman Raden

Resensi: Perubahan Bentukan Sosial Media di Indonesia

 Gambar dari sini


Sebuah film dokumenter  berjudul Linimas(s)a mengantarkan kita pada sebuah kenyataan bahwa jika kita bisa memanfaatkan sosial media seperti Facebook, Twitter maupun Blog  yang ada di internet secara baik dan positif maka dapat menciptakan sebuah perubahan baik secara personal maupun secara umum misalnya bagi kepentingan rakyat Indonesia.

Linimas(s)a adalah judul dari film dokumenter tersebut, pada prolog film ini kita ditunjukan oleh Director film ini yaitu @dandy_laksono tentang statistik menggunaan media sosial seperti Facebook dan Twittet di Indonesia. Dalam hal tersebut pengguna Facebook Indonesia menduduki 3 besar di dunia.  Sedangkan pengguna Twitter  di Indonesia terbesar nomor tiga di Asia.

Tingginya angka penggunaan sosial media di Indonesia menjadikan wajah politik dan hukum Indonesia dibuat berteguk lutut.  Sebagai sebuah bangsa yang besar dengan penduduk mencapai 220 juta jiwa maka rakyat sebanyak tersebut bersatu melalui satu suara di sosial media  untuk melakukan sebuah perubahan besar bagi Indonesia dan itu di ungkapkan secara real berdasarkan fakta di masyarakat dan presentasi dari ahli yang dituangkan dalam film dokumenter ini.

Hal terbesar dari film dokumenter ini saat kasus prita Mulyasari yang berseteru dimenja hijau dengan Rumah Sakit Omni International. Melalui sosial media publik mendukung pembebasan Prita dengan gerakan Koin Peduli Prita yang pencetusnya lahir dari sosial media Facebook Gerakan tersbut menjadi perhatian nasional.

Selai kasus Prita Mulya Sari film dokumenter ini juga mengungkap fakta bahwa para Facebooker di Indonesia  juga pernah berhasil  menggagalkan peta politik yang sarat intrik dan rekayasa yang dilakukan oleh penegak hukum menyangkut dugaan suap yang dilakukan oleh Bibit Samad Rianto dan Candra Hamzah selaku ketua KPK saat itu. Publik juga menentang agar kedua orang tersebut dibebaskan dari jeratan hukum karena publik mencium adanya  rekayasa besar untuk mengurangi wibawa KPK sebagai lembaga anti korupsi di Indonesia.

Sisi gagalnya sosial media dalam mencari dukungan publik sangat sedikit dan hampir tidak ada pengkajian secara mendalam oleh film dokumenter ini. Linimas(s)a tidak mentup diri banyaknya kejahatan yang dilakukan orang (oknum) pengguna sosial media, film ini hanya fokus dalam mencerminkan kepada publik tentang pentingnya penggunaan sosial media secara positif karena memang misi positif sosial media itulah yang mendasari lahirnya film dokumenter ini. Sepertinya film ini akan menunjukan pada dunia international bahwa Indonesia bisa melakukan misi kepentingan publik melalui satu suara di sosial media.

Pemanfaatan sosial media di Indonesia juga berdampak positif bagi masyarakat seperti pada bencana melatusnya Gunung Merapi di Yogyakarta pada akhir 2010 kemarin. Lagi sosial media memiliki peran penting dalam membantu mengkoordinasi sesama relawan dalam mengefakuasi pengungsi  yaitu melalui  media Twitter,  hal tersebut di akui oleh para relawan. Meraka cukup terbantu dengan adanya pemanfaatan Twitter dilokasi bencana.

Linimas(s)a memang lebih banyak mengupas dari sisi tentang bagaimana menggunakan internet sehat bagi masyarakat.  Bentuk penyadaran ini dituangkan saat orang yang berkebutuhan khusus (cacat fisik) di kota Solo di ajarkan untuk mengenal internet yang nantinya dapat memberikan nilai edukasi untuk  Indonesia bisa maju dalam menciptakan sebuah perubahan besar bagi bangsa Indonesia sekalipun dari Internet. Apalagi saat ini penggunaan teknologi Internet sudah menjadi keharusan bagi masyarakat abad modern.

Kebebasan berekspresi diera demokrasi, menjadikan rakyat Indonesia bisa menyatukan visi dan misi yang sama melalui sosial media untuk mewujudkan gerakan positif. Walaupun Indonesia terdiri dari berbagai pulau dan banyak penduduk namun semua terasa dekat dengan adanya media sosial seperti Facebook dan Twitter.

Jika anda adalah salah satu mengguna sosial media sepeti Facebook atau Twitter dan yang lainnya tidak ada salahnya anda melihat fakta positif  yang dituangkan dalam film dokumenter Linimas(s)a. Semoga perubahan positif kembali tercipta dari pemanfaatan sosial media di Indonesia.


Judul Film : Linimas(s)a atau Timeliner” (bahasa Inggris)
Jenis Film: Dokumenter
Judul Resensi : Perubahan Bentukan Sosial Media di Indonesia
Durasi: 45 Menit
Director Film: @dandhy_laksono
Executive Producer: @donnybu
Produksi: ICTWATCH.COM dan WatchDoC


6 komentar:

Gaphe mengatakan...

saya kadang nggak terlalu paham sama film dokumenter.. biasanya emang yang diangkat tuh kasus nyata, real dan ada pelakunya.. tapi kalo dokumenternya ngasal malah berasa nonton berita atau laporan investigasi.

Hariyanti Sukma mengatakan...

FB urutan 3 di dunia .... apakah ini membuktikan masyarakat Indonesia mempunyai budaya sosial yg tinggi juga ...??
iya ..ya film dukementer pasti film yg diambil dr fakta yg ada .

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

ya harus dimanfaatkan dg baik

Rahman Raden mengatakan...

Gaphe: jika film dokumenter digarap dengan baik mk penonton akan peka dengan pesan film itu

Sukma:indonesia pnya jiwa sosial tinggi? relatif. liat aj pejbt kita

Cerpenis: sip banget

Dwi Wahyudi mengatakan...

Tulisan yang sangat menarik, memang sebuah perubahan harus dibarengi dengan sebuah sikap dan tindakan. Oleh karena itu kita harus mencontoh dengan apa yang telah "tersirat" dalam film dokumenter linimas(s)a. Btw, selamat karena tulisan ini terpilih menjadi pemenang dalam Lomba Menulis Resensi Film Dokumenter Linimas(s)a dengan hadiah paket Norton Internet Security 2011. Keep to be a creative blogger...

Rahman Raden mengatakan...

Dwi: Alhamdulillah saya terpilih sebagai pemenang. terima kasih

Posting Komentar